43 Persen Balita di Garut Alami Stanting

KOTA, (KAPOL).-Berdasarkan hasil survei yang dirilis Kemeterian Kesehatan (Kemenkes) RI, menyebutkan bahwa 43,2 persen balita yang ada di Kabupaten Garut mengalami masalah stunting (gagal tumbuh).

Dengan angka ini, jumlah balita stunting di Garut disebut-sebut sebagai yang paling tinggi di Provinsi Jawa Barat.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Dodo Suhendar pada acara seminar yang membahas masalah stunting yang digelar Tim Penggerak PKK Kabupaten Garut di Pendopo Garut, Kamis (11/10/2018).

“Di Jabar, angka stunting paling tinggi memang terdapat di Kabupaten Garut. Karenanya, kami akan menyusun program khusus untuk menangani masalah stunting, termasuk di Garut,” ujar Dodo.

Ia menyebutkan, isu stunting memang baru muncul beberapa tahun belakangan ini. Hal ini berawal dengan dilakukannya kajian oleh WHO yang melihat di Indonesia banyak terdapat balita mengalami masalah stunting.

Diakuinya, hingga saat ini masalah stunting memang masih sulit dalam upaya penanganannya. Hal ini dikarenakan balita yang telah mengalami stunting tidak bisa disembuhkan dan dampaknya, pertumbuhannya terganggu.

“Itulah sebabnya kenapa upaya yang akan dilakukan pemerintah lebih kepada yang bersifat pencegahan agar jangan sampai ada lagi kasus stunting,” katanya.

Menurut Dodo, Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah mencanangkan dalam lima tahun ke depan Jabar zero stunting.

Hal ini langsung diungkapkan Gubernur Ridwan Kamil sebagai upaya pencegahan yang akan dilakukan sambil memperhatikan mereka yang telah mengalami stunting.

Masalah stunting, tuturnya, akarnya bukan hanya soal kesehatan saja akan tetapi juga ada masalah ekonomi yang membuat masyarakat sulit memenuhi kecukupan gizi.

Selain itu tingkat pendidikan masyarakat yang berpengaruh pada pengetahuan masyarakat akan makanan sehat dan budaya masyarakat
saat ini juga cukup besar dampaknya.

Dikatakan Dodo, selama ini banyak anak balita yang pada usia 0 sampai 6 bulan tidak mendapatkan ASI, jika pun mendapat ASI, bisa saja kualitasnya jelek karena makanan yang dikonsumsi ibu tidak bergizi.

Sementara Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman menyampaikan harapannya bahwa tingginya angka stunting di Garut bisa membuat semua pihak membuka mata dan menyadari arti pentingnya kecukupan gizi sejak seorang perempuan menikah, mengandung, melahirkan hingga menyusui.

“Karena masalah stunting ini bisa berawal dari perempuan yang kurang mengkonsumsi makanan bergizi mulai dari saat sebelum menikah hingga menyusui,” ucap Helmi.

Dengan demikian, tandas Helmi, masalah stunting ini bukan akibat faktor keturunan juga, hanya kalau ibunya sejak hamil kurang mengkonsumsi makanan bergizi, maka bayi dalam kandungannya juga akan kurang gizi.

“Penanganan masalah stunting bisa dilakukan dengan penguatan peran ibu dalam keluarga. Karena dengan ibu yang sehat, anak yang dilahirkan pun akan sehat,” ujar Helmi.

Lebih jauh ia menjelaskan, stunting adalah kondisi di mana anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga menyebabkan ia lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya.

Banyak yang tak tahu kalau anak pendek adalah tanda dari adanya masalah pertumbuhan si kecil.(Aep Hendy S)***

Komentari