IKLAN
EKBIS

Bisnis Boboko tak Lekang Dililit Zaman

ASTRI/

ASTRI/”KP” | Para pengrajin boboko sedang menyelesaikan pemesanan.

TASIKMALAYA, (KAPOL)-.
Eksistensi boboko ternyata tak lekang zaman. Meski perabotan modern nyaris menghiasi di setiap rumah, para pengrajin di Kampung Pasir Angin RT 03/09 Kec. Bungursari masih bisa menghimpun pundi rupiah dari bakul tersebut.

Salah satu pengrajin, Dedeh mengatakan jika pembuatan yang sulit karena butuh ketelatenan yang tinggi ini menyebabkan beberapa pengrajin terpaksa meninggalkan usaha home industri yang telah turun menurun di kampung ini.

“Kalau permintaan ya bagus, karena selalu ada saja. Tapi memang kebanyakan sekarang-sekarang itu bukan berasal dari rumah tangga, tapi restoran yang pada pakainya,” kata dia, Selasa (11/8/2015).

Untuk menghasilkan satu buah boboko ukuran standar saja diperlukan satu hari, karena kerumitan menganyamnya. Belum lagi, kendala bahan baku bambu yang kini mesti dibeli dengan harga sekitar dua belas ribu per leunjeurnya.

Dulu, kata Dedeh, warga tak perlu beli karena bisa mendapatkannya sendiri di gunung dekat pemukiman.

“Kalau beli juga paling dua ribu lah, sekarang mah udah mahal, itu paling juga cukup untuk buat bikin boboko lima buah,” tambahnya.

Harga yang dijual dari tangan pengrajin untuk konsumen rumah tangga berkisar dari sepuluh ribu hingga tiga puluh ribu rupiah. Dedeh mengaku masih belum bisa memasarkannya langsung, lantaran akan menambah biaya transportasi. Dia memilih untuk menyetorkan hasil karyanya ke pengepul.

“Kalau kita yang jual langsung mah belum pasti lakunya, kalau gini kan bisa langsung modal lagi,” tambahnya.

Menurut dia, sejauh ini belum ada pelatihan atau bentuk perhatian lainnya dari pemerintah yang diterima para pengrajin tersebut. Industri rumahan tersebut dikatakan Dedeh tumbuh dengan sendirinya.

“Inginnya bisa terus mempertahankan kerajinan khas sini, karena walaupun daerah lain juga punya, pasti beda karena boboko kami bentuknya enceng gondok,” imbuh dia.

Lepas Ramadan kini, permintaan masih tetap ramai dikatakan pengepul boboko Ny. Oyoh di lokasi yang sama.

“Seminggu paling lima puluh mengambil boboko dari sini, dulu mah bisa sampai tiga ratusan. Kalau di pasar untungnya masih ada aja yang cari, banyak juga yang dikirim ke luar kota,” ucap wanita yang lebih dari empat puluh tahun menekuni tersebut. Seperti Bandung dan Kalimantan.

Dari hasil mengumpulkan boboko dari para pengrajin, dia kemudian menjualnya kepada toko grosir di Pasar Induk Cikurubuk.

Setiap minggunya, permintaan selalu berubah bentuk-bentuknya menyesuaikan keinginan pasar. Kini, boboko berukuran mini lebih digemari, kata dia. (Astri Puspitasari)***
image

Komentari

IKLAN

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN
Direktur : H. Usman Rachmatika Kosasih Penanggungjawab: AS Wibowo
Pemimpin Redaksi : Duddy RS
Redaktur Pelaksana : Abdul Latif
Teknologi Informatika : Deni Rosdiana
Promosi dan Iklan : Nova Soraya
Kesekretariatan : Dede Nurhidayat, Sopi
Wartawan : Imam Mudofar, Azis Abdullah, Ibnu Bukhari, Astri Puspitasari, M. Jerry

Alamat Redaksi : Jl. RE. Martadinata No. 215 A Kota Tasikmalaya 46151

To Top