Budaya Bahasa Inggris Kian Terbentuk

Salah satu kelompok siswa menampilkan kemampuan Bahasa Inggrisnya melalui nyanyian, di ajang Spectra Student Show sebagai penutup Matrikulasi Bahasa di SMA Al Muttaqin.

​TASIKMALAYA, (KP).-

Satu bulan penuh sudah warga SMA Al Muttqin mulai dari siswa, guru, hingga staf administrasi digodok kemampuan Bahasa Inggris-nya di awal tahun akademik 2016/2017 ini. Program Matrikulasi Bahasa yang digagas pihak sekolah pun tampak membuahkan hasil positif, pasalnya hal tersebut tampak dari kecakapan dan keluwesan yang ditampilkan warga sekolah melalui ajang Specta Student Show. Seluruh pementasan kreatif tersebut dibawakan sepenuhnya dalam pengantar Bahasa Inggris oleh para guru dan siswa, diantaranya drama, menyanyikan lagu, puisi, monolog, pidato, hingga ke panggelaran busana.

Kepala SMA Al Muttaqin Drs. Jenal Al Purkon, M.Pd menilai dengan pembiasaan yang dilakukan selama satu bulan terakhir ini, lebih dari cukup membentuk sebuah budaya di lingkungan sekolah untuk menjadikan Bahasa Inggris sebagai penutur sehari-hari.

“Dari semula ya masih segelintir saja, sekarang kami lihat lebih komprehensif, karena memang yang dibekalinya pun seluruhnya. Yang menjadi luar biasa bagi kami adalah semangat dan kesungguhan para guru yang betul-betul ingin meningkatkan kapasitas dirinya, selain dari siswa ini juga sama antusiasnya. Misalnya, hari Sabtu yang biasa libur, kemarin dipakai untuk mentoring ini, tetap berbondong-bondong,” paparnya di sela kegiatan penutupan yang digelar di Aula Lantai 2, Selasa (16/8/2016).

Jenal melanjutkan, paska pelatihan tersebut, penuturan dalam Bahasa Inggris ini telah menjadi komitmen dan kesepakatan bersama pihaknya untuk tetap digunakan sehari-hari. “Jadi, guru dalam komunikasi baik sesama guru atau kepada siswa, diminta tetap mengaplikasikan kemampuannya agar lebih terasah,” kata dia. Bahkan, Tim Pengembang Bahasa di SMA tersebut juga telah mendapatkan 68 siswa terpilih dengan nilai excellent, untuk dijadikan tutor sebaya sebagai penggerak di lingkungannya.

Program ini pun akan masih dilakukan setidaknya untuk dua tahun ke depan. Sebab, menurut Jenal, pihaknya pun seusai penguatan tiga tahun ini berjalan lancar, akan mencoba untuk menggelar matrikulasi bahasa secara mandiri. “Selain di tiga tahun ini, kami juga akan mengirimkan beberapa guru ke Kampung Pare sana, untuk persiapan menjadi tutor di sini,” tambah pria tersebut. Lebih jauh, lewat pengasahan bahasa yang kerjasama dengan Fee Center ini, Jenal mengharapkan lulusan SMA Al Muttaqin nantinya dapat mengantongi TOEFL di angka 450. 

Pengawas dan Pembina dari Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, H. Krisna Sujaya yang hadir dalam kesempatan tersebut juga turut mengapresiasi inovasi sekolah tersebut. “Karena bahasa asing itu ya sudah kebutuhan untuk civitas akademik, dan ini salah satu ciri khas sekolah model. Kami melihat juga dengan kemampuan yang ada akhirnya pun literasi di sekolah akan lebih menggeliat lagi,” ujarnya. Di Kota Tasikmalaya sendiri, disebutnya, saat ini hanya sekitar dua puluh lima persen saja warga sekolah yang menguasai Bahasa Inggris secara aktif. 

“Salah satu yang luar biasa dan berbeda, dari 300 lebih sekolah yang kami temui, adalah kekompakan guru-gurunya untuk cakap bicara dalam Bahasa Inggris, di sini tinggi sekali motivasinya. Dan itu modal besar sekolah untuk mencapai goalnya,” ujar Direktur Fee Center Kampung Pare, Abdul Malik. Karena itu, pihaknya optimistis dengan komitmen sekolah yang tinggi, apa yang dilatih itu bisa berjalan baik ke depannya. “Kami pun terus mendampingi dan akan memantau,” pangkasnya. (Astri Puspitasari)***

Komentari