oleh

Dahnil: Islam di Indonesia Sudah Sangat Toleran

SINGAPARNA, (KAPOL) – Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) bererta Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Tasikmalaya mengundang Dahnil Anzar Simanjuntak. Kedatangan mantan Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah (PPPM) tersebut diwadahi dengan acara tablig akbar.

Acara yang berlangsung Rabu (02/10/2019) itu bertema “Harmoni dalam Kebinakaan dan Keislaman”. Dua lantai Masjid Basmalah, yang berlokasi di Kompleks Pendidikan Muhammadiyah Cikedokan, Singaparna, penuh dengan mustami.

Pada kesempatan tersebut, Dahnil ceramah sekitar satu jam. Ia menyampaikan materi sesuai tema yang telah ditentukan.

“Islam orang Indonesia itu Genetikanya, DNA-nya, sangat toléran. Sangat well come, asal jangan diganggu,” ujarnya.

Buktinya, lanjut Dahnil, sejarah telah membuktikan bahwa dari masa ke masa, paham keagamaan apapun berkembang dengan baik. Hindu, Budha, Kristen, dan agama lainnya dapat diterima oleh warga Indonesia yang majemuk.

Namun, Dahnil juga mengingatkan bahwa dalam kebudayaan Indonesia ada istilah “amok”. Artinya, kalau kelewat diganggu, sesekali bisa pecah.

“Bandung Lautan Api itu amok. Peristiwa Surabaya itu amok. Dan banyak lagi contoh lainnya,” lanjutnya.

Dalam kata lain, dalam bahasa Dahnil, bangsa Indonesia sudah hatam dengan urusan toleransi. Tak perlu diajari lagi. Cuma, masalahnya, politik membuat polarisasi. Menciptakan stigmatisasi. Sehingga tampak terpecah dan intoleran.

Selanjutnya Dahnil mengajukan sebuah solusi, bahwa untuk merawat Indonesia perlu ada sinergitas antara partai politik dengan lembaga dakwah. Ia mengakui kalau langkah tersebut bukan barang baru. Melainkan pernah direalisasikan sekitar satu abad yang lalu.

“Dulu, Kiai Dahlan berjalan beriringan dengan HOS Cokroaminoto. Kiai Dahlan dengan Muhammadiyah menempuh jalur kebudayaan, yaitu mendirikan sekolah dan rumah sakit. Sementara HOS Cokroaminoto menempuh jalur politik dengan Sarekat Islam, atau SI,” terang Dahnil.

Secara spesifik, sinergitas antara Muhammadiyah dengan SI, antara lain saat Kiai Dahlan menggunakan strukrut SI untuk pengembangan Muhammadiyah. Di mana ada cabang SI, di sanalah Kiai Dahlan mengembangkan Muhammadiyah. Dengan demikian, kedua lembaga tersebut tumbuh besar bersama.

“Sekarang kenyataannya tidak begitu. Partai punya strategi sendiri, lembaga dakwah juga punya caranya sendiri. Bahkan cenderung saling bertolak belakang,” ujarnya.

Komentar

News Feed