Dede Yusuf : “Era Digital, 60 Juta Orang Hilang Pekerjaan Konvensional”

SUMEDANG, (KAPOL).- Dede Yusuf Macan Efendi mengatakan, tak ada perubahan yang tidak diciptakan oleh pemuda.

Pada abad 8 Masehi, ada pemuda bernama Muhamad bin Abdullah yang mendapatkan pencerahan yang juga menghapus perbudakan agar manusia disamakan derajatnya.

Ada lagi pemuda yang lain, kata dia, pada abad ke 8 sampai 12 Masehi terjadi revolusi francis, revolusi amerika dan revolusi inggris yang semuanya dilakukan pemuda.

“Perubahan di masa kini, telah terjadi revolusi global abad 21 yang disebut revolusi digital. Proyeksi masuknya era digital akan ada 60 Juta orang hilang pekerjaan konvensional dan ada 40 juta masuk digital,” katanya pada acara Road Show Seminar Motivasi ” Spirit Of Indonesia”, di Graha Suhardani Kampus Ikopin Jatinangor, Senin (12/2/2018).

Mengutip pernyataan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, Fed mengatakan, projeksi naiknya era digital memungkinkan ada 60 juta orang yang kehilangan pekerjaan konvensional.

Namun, ujar dia, akan tumbuh masyarakat yang bekerja di sektor digtal sebanyak 40 Juta orang.

Contohnya, kata dia, misal pembayaran di jalan tol sudah digital, rumah makan tak perlu repot karena pembeli bisa secara online dan cepat atau lambat itu akan terjadi pada diri kita sendiri.

“Welcome to digital era, sekarang tak sedikit orang yang pegang hape. Permasalahan bagi pemuda sekarang, mulai mereka yang duduk dibangku SMP sampai kuliahan, adalah jika tak punya kuota,” ucap Ketua Komisi IX, DPRR itu.

Sekarang zaman now, kata dia, pantau saja sudah tak ada yang tak update status di media sosial (fb, tweater, facebook dan lain-lain).

Lebih lanjut Dede mengatakan, ketika bicara bonus demografi (bonus yang dinikmati suatu negara sebagai akibat dari besarnya proporsi penduduk produktif), bahwa ditentukan jika angka usia produktif ada sekira 15 Р35.

Artinya jika sekarang cukup banyak orang yang produktif dan masalahnya, apakah usia produktif tersebut dalam kurun waktu kedepan pada bonus demografi akan tinggi?.

Bahkan, kata dia, apakah nanti akan diisi para pengangguran atau orang-orang kreatif?.

Contoh, sekarang ada games dengan hadiah miliaran rupiah.

“Banyak pemuda menghabiskan waktu main games di depan gadget dan komputer yang juga tak ngaji tak olahraga dan itulah era digital,” ujarnya.

Hal itu, ujar dia, bersifat membuang waktu dan ada gambaran khusus biar sukses.

Gambarannya yakni, kata dia, jika ingin soleh maka gaul dengan orang soleh, jika ingin sukses maka gaul dengan orang sukses dan jika pengen jomblo maka gaul lah dengan yang jomblo.

Itu artinya, kata dia, arus informasi kepada pemuda satangnya dari orangtua, sekolah, lembaga negara dan agama, media serta komunitas.

Masalahnya, itu masuk ke dalam pikiran kita dan memang sulit untuk merubah semuanya.

Bicara politik, zaman Rosoaulullah, beliau seorang politisi yang bisa merangkul, melobi dan jika tak kena maka angkat senjata.

Tujuan politik itu, kata dia, sama seperti koperasi untuk kesejahteraan anggotanya.

Dikatakan, Indonesia masuk kategori negara dengan pendusuk terbanyak ke 4 di dunia yakni sebanyak 250 Juta orang.

Pertumbuhan pendduduknya, kata dia, 1,5 per tahun maka sekira 300 juta orang atau 60 persen menumpuk di pulau jawa.

Berkaca dari itu, maka permasalahan yang hadir seperti makan akan susah karena sawah tak ada, berdiri rumah dan industri, hadir masalah sosial dan ada konplik sosial termasuk masalah lapangan pekerjaan.

Sesuai data BPS, kata dia, jumlah angkatan kerja di Indonesia per tahun sebanyak130 Juta orang.

Terdiri dari sektor formal 70 Juta orang dan 50 Juta orant disektor non formal.

Bahkan, 60 persen lulusan SMP ke bawah yang ada disektir pertanian, peternakan dan nelayan.

“Untuk sarjana, hanya ada 10 persen dan sarjana menganggur itu capai 300 ribu (menurut serikat pekerja). Namun, jika menurut Menteri Tenaga Kerja ada sekitar 200 ribu sarjana yang menganggur,” ujarnya. (Azis Abdullah)***

Komentari