Dewasa Menyikapi Perbedaan Politik

Oleh Dr Thanon Aria Dewangga

Alhamdullilah Pemilihan Kepala Daerah Serentak Tahun 2018 telah berlangsung dengan aman dan lancar.

Saat beberapa kesempatan kami mendampingi Sekretaris Kabinet Pramono Anung menerima para Duta Besar yang beraudiensi, mereka memberikan apresiasi yang sangat positif kepada pemerintah, penyelenggara dan khususnya kepada rakyat Indonesia.

Mereka memandang kita sebagai bangsa Indonesia mampu beradaptasi dengan cepat terhadap proses demokratisasi dan siap menerima perbedaan sementara untuk kemudian bersatu kembali.

Praktek yang nyata terlihat dalam Pilkada Jawa Barat. Sesaat seteah KPUD Jawa Barat mengumumkan pasangan Rindu (Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul) sebagai pemenang, secara sportif pasangan Asyik (Sudrajat dan Syaikhu) mendatangi Ridwan Kamil secara langsung untuk memberikan ucapan selamat dan berkomitmen untuk membangun Jawa Barat bersama-sama.

Sebuah pemandangan yang menyejukkan dan beraura positif untuk kelangsungan proses demokrasi di Jawa Barat khususnya dan Indonesia secara umum.

Kembali kepada apresiasi yang disampaikan oleh para duta besar yang saya sampaikan, hal ini berdampak positif kepada negara kita.

Beberapa kesempatan, Sekretaris Kabinet Pramono Anung selalu meyakinkan para investor maupun Duta Besar yang beraudiensi, bahwa seberapa ketatnya pemilihan kepala daerah di Indonesia, kemanan pasti terjamin.

Baik itu keamanan secara fisik, investasi, sosial maupun ideologi. Dan statement tersebut dibuktikan dengan perjalanan pilkada serentak, yang terakhir pada bulan lalu. Negara lain dan juga para investor semakin yakin terhadap Indonesia dan siap untuk membangun Indonesia bersama-sama.

Rasanya kita bisa berdiri tegak secara optimis bahwa bangsa kita memang sudah siap untuk berdemokrasi secara sehat.

Dalam perjalanannya, memang masih banyak kekurangan dalam pelaksanaan pilkada serentak tersebut. Sering kita membaca baik di media konvensional maupun media sosial, banyak sekali muncul black campaign maupun debat kusir yang sangat tidak substantif mewarnai perjalanan pilkada serentak. Hal tersebut merupakan contoh buruk bagi pembelajaran demokrasi kepada msyarakat.

Ke depan kita semua berharap, gesekan antar pasangan calon sebaiknya dimulai dengan beradu konsep, program kerja dan visi serta misi sehingga secara langsung maupun tidak langsung memberikan kontribusi pembelajaran politik kepada masyarakat.

Untuk menghindari kondisi di atas, diperlukan kerja bersama/kerja kolektif antar elemen bangsa. Dimulai dengan para kandidat dan tim suksesnya yang harus mulai sadar bahwa kepentingan dan persatuan bangsa di atas segalanya.

Kemudian pemerintah perlu secara aktif mencari solusi melalui aspek regulasi untuk membendung praktek-praktek negative di atas. Terakhir, masyarakat juga harus mulai cerdas untuk memilah dan memilih berita dan informasi yang memang didasarkan pada data dan fakta.

Akhirnya pada masa mendatang, tidak lama lagi kita akan menghadapi proses pemilihan umum untuk memilih Presiden, Wakil Presiden dan anggota legislative. Kita semua tentu berharap agar proses ini berjalan dengan lancer dan bias lebih baik lagi dari pelaksanaan pilkada serentak sebelumnya.

Bila kita semua sanggup melewati proses ini dengan aman dan damai, rasanya kita bias bertepuk dada bahwa kita rakyat Indonesia telah dewasa untuk menghadapi proses demokratisasi dan kitalah Negara demokrasi tersbesar di dunia mengalahkan Negara-negala lain di dunia. Aamiin YRA***

( Dr Thanon Aria Dewangga, Staf Ahli Bidang Hukum dan Hubungan Internasional Sekretariat Kabinet RI)

Komentari