oleh

Di Era Disrupsi, Guru Harus Fokus Membangun Karakter Anak

TASIKMALAYA, (KAPOL).- Di era disrupsi sekarang ini peran dan fungsi guru harus fokus pada penguatan karakter atau akhlak peserta didik.

Pasalnya di era revolusi industri 4.0 saat ini jika hanya untuk mencerdaskan dan memintarkan anak sudah ketinggalan dengan teknologi digital yang serba mudah diakses anak-anak dan adanya kecerdasan buatan.

Ketua PGRI Kabupaten Tasikmalaya, H Akhmad Juhana mengatakan peran dan fungsi guru yang tidak bisa digantikan adalah membangun atau membentuk moralitas anak bangsa.

Sehingga anak-anak atau peserta didik memiliki moralitas bangsa yang baik atau memiliki Akhlakul karimah.

“Kalau guru terjebak untuk mencerdaskan atau memintarkan anak, google pun lebih dari itu. Maka ada sisi lain bagaimana guru membentuk moral anak bangsa sehingga anak memiliki moralitas bangsa yang kuat, ini yang harus dipahami oleh guru sehingga peran dan fungsi guru tidak tergantikan,” katanya Selasa (29/10/2019).

Kata dia pemerintah harus memperhatikan infrastruktur dalam hal ini menyiapkan kurikulum yang sistemnya mengarah pada peningkatan moralitas anak didik.

Dan itu ada harapan pada kebijakan menteri pendidikan yang baru di kabinet pemerintahan sekarang.

Jelas Akhmad Juhana di dunia pendidikan saat ini harus ada revolusi sistem bukan lagi reformasi.

Sehingga sekolah dibentuk menjadi sebuah lembaga kreativitas anak. Dan ini akan sangat berpengaruh terhadap kebutuhan guru dan juga sistem kelas yang akan berubah.

“Guru sekarang ini dituntut berperan sebagai mitra, mitra anak sebab bahan belajar bukan lagi guru satu satunya. Anak sekarang ini bisa lebih kreatif dan mandiri dalam mencari sumber belajar tinggal mengkompilasi di sekolah dengan guru,” ujarnya.

Rasio perhitungan guru dengan murid tegas dia saat ini sedang dipikirkan oleh pemerintah. Hanya saja pemerintah belum berani mengucapkan.

Salah satu acuan yang paling memungkinkan adalah negara Inggris. Bagaimana memanage korelasi siswa guru dan sekolah.

Di Inggris rasio guru tidak lagi terikat oleh jumlah kelas tapi orientasi pada faktor kebutuhan dan faktor minat.

Contoh siswa yang minat seni tidak terlayani di sekolah dia cari di google.

Ketika datang ke sekolah dia berimajinasi dengan temuannya dan bagaiman mengembangkan temuan tersebut di masyarakat maka kuncinya guru.

“Bagaimana menjaga moralitas anak ketika menemukan sumber belajar anak ketika tidak sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan, itu tugas guru di sekolah.

Hal yang paling utama persoalan anak bangsa saat ini kata dia guru harus diberi pengetahuan tentang strategi pengendalian emosi.

Saat ini masyarakat emosional nya tidak menentu cepat puas dan cepat tidak puas. Maka guru harus memiliki starategi sumber belajar apa yang pas dan disiapkan menghadapi anak-anak saat ini.

Peran PGRI jelas dia harus ikut berkontribusi dalam membentuk sistem pendidikan yang berbasis faktual dan PGRI tidak mengarahkan guru anteng di medsos.

Ke depan itu belajar bisa di mana saja. Namun tetap guru harus bisa membangun karakter anak sehingga menjadi pribadi yang baik di tengah gempuran revolusi industri 4.0. (KP-03)***

Komentar

News Feed