Di SLB, Bakat dan Minat Siswa Difasilitasi


TASIKMALAYA, (KAPOL).- Seperti halnya sekolah reguler, pada awal tahun pelajaran 2019/2020 ini Sekolah Luar Biasa (SLB) juga membuka pendaftaran peserta didik baru. Siswa disabilitas yang dididik di SLB akan mendapatkan wadah untuk menyalurkan minat dan bakatnya.

Kegiatan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun pelajaran 2019/2020 turut disosialisasikan oleh SLB Negeri Kabupaten Tasikmalaya di aula SLBN Kabupaten Tasikmalaya, Jalan Pesantren, RT 03, RW 05, Desa Tanjungmekar, Kecamatan Jamanis, Kabupaten Tasikmalaya, Senin (17/6/2019).

Dalam kesempatan itu hadir unsur sekolah, orangtua siswa, orangtua calon siswa, dari Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM), dan 2 orang kepala sekolah di Kecamatan Rajapolah. Para peserta mendapatkan penjelasan mengenai profil sekolah, persyaratan masuk ke SLBN Kabupaten Tasikmalaya, hingga waktu tahap-tahap pendaftaran.

Ketua panitia kegiatan, Hj. Siti Komariah, M.Pd. kepada “KP” mengatakan bahwa di SLB terdapat jenjang TKLB hingga SMALB. Adapun usia anak yang diterima mulai 5 – 21 tahun, atau masing-masing berusia minimal 5 – 7 tahun untuk TKLB, 7 – 15 tahun untuk SDLB, 15 – 18 tahun untuk SMPLB, 18 – 21 tahun untuk SMALB.

Sementara kriteria siswa yang diterima di SLB antara lain siswa yang memiliki hambatan penglihatan, hambatan pendengaran, hambatan kecerdasan, hambatan fisik motorik, hambatan emosi, hambatan interaksi komunikasi/autis.

“Anak yang masuk SLB adalah anak yang memiliki hambatan, baik fisik seperti anak tunanetra, tunarungu, tunadaksa. Anak yang memiliki hambatan mental atau hambatan kecerdasan seperti anak tunagrahita, anak down syndrome. Anak yang memiliki hambatan emosional seperti tunalaras. Anak yang memiliki hambatan interaksi dan komunikasi seperti anak autis. Anak yang sangat hiperaktif, jika digabung dengan anak normal, ia akan mengganggu,” jelasnya.

Pihaknya berharap orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK) tidak merasa malu memasukkan anaknya ke SLB, karena semua anak berhak mendapatkan pendidikan. Terlebih,  biaya pendidikan di SLB gratis.

Orangtua hanya memikirkan biaya operasional sehari-hari, sehingga pada umumnya peserta didik SLB lulus hingga jenjang SMALB. Di luar itu, ada peserta didik yang tidak melanjutkan pendidikan karena berbagai faktor.

“Kebanyakan kendala biaya transportasi dari rumah ke sekolah, mahal di ongkos. Karena yang sekolah di SLB dari berbagai pelosok desa. Ongkos ojegnya mahal, jadi hanya sampai SMPLB saja. Namun demikian walaupun ongkos ojeg mahal banyak pula siswa yang lulus sampai dengan jenjang SMALB, karena ditunjang oleh semangat anak itu sendiri dan dukungan dari orangtuanya yang mengerti pentingnya pendidikan,” paparnya.

Adapun waktu pendaftarannya dibagi 2 gelombang, yaitu pendaftaran gelombang I pada 17 – 22 Juni 2019, lalu pendaftaran gelombang II pada 24 Juni- 14 Juli 2019. Kemudian asesmen gelombang I pada 25 – 28 Juni 2019 dan asesmen gelombang II pada 16 – 17 Juli 2019.

Saat pendaftaran, lampirkan surat keterangan dari psikolog untuk pendaftar jenjang TKLB dan SDLB pada saat mendaftar, anak harus dibawa ke SLBN Kabupaten Tasikmalaya. “PPDB SLBN Jamanis waktunya diperpanjang sampai awal  Agustus karena banyak orangtua yang masih ragu daftar ke SLB,” tuturnya.

Lebih lanjut Siti menjelaskan, di SLB, anak dibekali keterampilan sebagai bekal hidup di keluarga maupun di masyarakat. “Anak-anak yang berbakat menjahit, kita salurkan menjahit. Anak yang berbakat IT, kita salurkan pada IT. Anak yang berbakat perkayuan, kita salurkan kriya kayu,” katanya.

Keterampilan yang dimiliki jadi modal dia bisa bekerja sesuai bidangnya, karena mereka pun berhak mendapat pekerjaan untuk mendapat penghasilan. Bagi lulusan yang memang kompeten menjahit bisa disalurkan ke konveksi atau ke pabrik garmen.

“Tapi tidak semua anak bisa bekerja.Anak tunagrahita sedang harapannya mereka bisa mandiri di keluarga dan di masyarakat,” ujarnya. (Aji MF)***

Diskusikan di Facebook
Baca juga ...