Diduga Ada Kejanggalan Pihak Keluarga Minta Diotopsi

PANCATENGAH, (KAPOL).– Satreskrim Polres Tasikmalaya akan membongkar jenazah Panji Nurkholik (19) warga Kp Cibuntu Desa Cibuniasih Kecamatan Pancatengah Kabupaten Tasikmalaya untuk dilakukan otopsi.

Kasat Reskrim Polres Tasikmaya AKP Pribadi membenarkan hari ini, Kamis (12/7/2018) akan membongkar jenazah Panji Nurkholik (19) untuk dilakukan otopsi.

Tindakan otopsi dilakukan atas permintaan dari orang tua korban, karena kematian anaknya ada kejanggalan.

Sebelum ada permintaan dari keluarga, beberapa setelah kejadian, pihak kepolisian sudah menawarkan untuk diotopsi. Namun waktu itu pihak keluarga menolaknya.

“Kami waktu itu sudah menawarkan untuk diotopsi. Tapi pihak keluarga menolaknya. Bahkan ada surat pernyataannya. Namun setelah ayahnya pulang dari luar kota, minta diotopsi,” kata Kasat saat dihubungi “KAPOL” Rabu (11/7/2018).

Kasat mengakui otopsi ini rencana akan dilakukan pada Kamis (5/7/2018) lalu. Hanya karena petugas masih konsen pengamanan Pilkada, baru dilakukan sekarang ini.

Salah seorang keluarga korban Entin (45) membenarkan jika Kamis (12/7/2018) hari ini, akan dilakukan otopsi terhadap jenazah Panji Nurkholik, yang juga keponakannya.
Pihak keluarga meminta jenazah korban diotopsi karena penyebab meninggalnya korban dinilai janggal.

Entin menjelaskan sesuai dengan keterangan teman-teman korban, bahwa Panji meninggal akibat terjatuh dari ketinggian 17 meter dari atas jembatan Cilumba Desa Linggalaksana Kec. Karangnunggal. Akibatnya kepala di bagian belakang, dekat telinga membentur batu hingga terjadi luka cukup dalam.

Oleh teman-temannya Panji memang sempat dibawa ke Puskesmas setempat. Hanya kondisinya sudah meninggal.

Saat itu, pihak keluarga pasrah dan percaya jika korban meninggal akibat terjatuh di bawah jembatan dan kepalanya terbentur batu.

Namun saat memandikan jenazah curiga karena lukanya seperti ditusuk benda tajam. Pihak keluarga juga melihat lokasi kejadian di Jembatan Cilumba. Saat itulah mulai muncul kecurigaan. Karena di bawah jembatan, tidak batu yang runcing. Sehingga pihak keluarga menduga luka di kepala korban bukan karena membentur batu, tetapi seperti luka ditusuk dengan benda tajam.

“Kalau jatuh dari ketinggian 17 meter, badan pasti remuk. Ini memar pun tidak. Lukanya juga hanya satu di belakang telinga,” katanya Pepi saat dihubungi melalui WA Rabu (11/7/2018).

Entin menambahkan, kasus ini terjadi dua minggu sebelum lebaran. Tepatnya Selasa, 5 Juni 2018. Waktu itu korban bersama dengan teman-temannya bermain menggunakan sepeda motor.

Ketika sampai di Jembatan Cilumba Desa Linggalaksana Kec. Karangnunggal mereka berhenti. Saat sedang berhenti itulah, kata teman korban, Panji terjatuh.

“Kami sebenarnya memang sudah mengiklhaskan atas meninggalnya panji. Hanya kami ingin memastikan dan ingin tahu apa penyebab kematian korban,” katanya. (Aris MF)***

Komentari