Dilema Satpol PP: dari Atas Ditekan, di Bawah Dikecam

image
Ahmad Gozali

SINGAPARNA, (KAPOL),-
Rupanya setegas apapun langkah Satpol PP Kab. Tasikmalaya menertibkan PKL (Pedagang Kaki Lima) di kawasan alun-alun Singaparna, nurani kemanusiaan tetap dirasakan. Ada dilema yang dirasakan langsung oleh petugas Satpol PP Kab. Tasikmalaya. Dari atas ditekan, di bawah dikecam. Hal itu terlontar langsung dari Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kab. Tasikmalaya, H. Imam Gozali, Jum’at (28/8/2015) siang.

Gozali mengaku paham betul dengan situasi tersebut. Keberadaan PKL itu ikhwal ikhtiar mencari penghidupan. Pasca penertiban, Gozali yakin akan ada dampak secara ekonomi kepada para PKL.

“Mereka punya keluarga, punya anak, bahkan ada juga yang masih punya hutang ke bank sisa modal usaha mereka. Kami sadar dan paham betul situasi tersebut,” kata Gozali.

Tapi di sisi lain, imbuh Gozali, segi profesionalitas harus dilakukan. Satpol PP adalah tim satuan penegak Perda. Keberadaan PKL di alun-alun Singaparna bertentangan dengan Peraturan Daerah nomor 3 tahun 2014 tentang ketertiban umum. Terlebih sesuai RDTR (Rencana Detail Tata Ruang Wilayah) Kab. Tasikmalaya, alun-alun Singaparna ini diperuntukkan sebagai kawasan terbuka hijau.

“Di sisi lain ini melanggar peratuean dan harus ditertibkan. Satpol PP sendiri mendapat tekanan dari atasan untuk melakukan penertiban. Kami sendiri dilema sebetulnya. Tapi ya bagaimanapun juga tugas kami adalah menegakkan peraturan. Kami hanya menjalankan tugas,” imbuh Gozali.

Penertiban PKL di kawasan alun-alun Singaparna, kata Gozali, jangan disalah artikan bahwa Satpol PP melarang PKL berjualan dan mencari nafkah. Hanya saja segala sesuatunya harus sesuai dengan tempatnya. (Imam Mudofar)

Komentari