Guru SD Banyuresmi Garut Dapat Pelajaran HOTS dan STEM dari Belanda

GARUT, (KAPOL).- Pudin, M.Pd., guru SDN 1 Banyuresmi, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut menjadi salahsatu peserta Pelatihan Guru Pendidikan Dasar dalam HOTS (Higher Order Thingking Skills) dan STEM (Science, Technology, Enginerings and Mathematics) di Leiden University, Belanda.

Saat dihubungi “KP”, Minggu (19/5/2019), Pudin mengatakan, kegiatan tersebut dilangsungkan di Leiden University dan Windesheim University of Applied Science, Belanda. Sebelumnya dilakukan kegiatan pre departure di Jakarta pada 24 Februari – 3 Maret 2019. Lalu pelaksanaan kegiatan di Leiden University dan Windesheim University pada 4 –  24 Maret 2019. Setelah itu, post departure para 25 – 27 Maret 2019 di Jakarta.

Pudin menceritakan, selama kegiatan tersebut dilaksanakan berbagai kegiatan, antara lain menerima materi dari beberapa narasumber dari Leiden University dan Windesheim University, kunjungan ke  primary school (SD) dan secondary school (SMP)  untuk melihat secara langsung proses pembelajaran, kunjungan ke laboratorium Techno Lab,  LAB21 dan JSL Lab, kunjungan ke museum, knjungan dan presentasi hubungan pemda dan pendidikan di Balai Kota Leiden, hingga kunjungn ke  KBRI di Den Haag.

Dikatakannya, kegiatan tersebut bertujuan untuk mempelajari lebih dalam tentang HOTS dan STEM, yakni pendekatan dalam pembelajaran. HOTS adalah proses pembelajaran yang mendorong siswa berpikir kritis dan krearif.

“Bagaimana guru bisa menstimulus siswa untuk  ke arah sana. Yang kita tahu selama ini HOTS adalah soal-soal yang mengharuskan siswa berpikir, bahkan ada yang menganggap HOTS adalah soal sulit. Yang saya observasi dan dari materi Prof. Fred Janssen, HOTS adalah proses pembelajaran. Jika pembelajaran sudah HOTS, maka siswa akan mudah mengerjakan soal HOTS,” katanya.

Sementara STEM adalah sebuah pendekatan dengan integrasi konten sains, teknologi, dan matematika. “Tapi setelah pelatihan di Belanda, STEM saya kenal bukan hanya pada konten materi yang mengandung sains, teknologi, dan matematika saja. Misal dalam bahasa, STEM ditempatkan sebagai support pembelajaran, yaitu dengan menggunakan teknologi sebagai media belajar,” kata guru yang juga penulis ini.

Guru peraih juara III INOBEL MIPA Nasional tahun 2017 ini menjelaskan, STEM dalam ilmu sosial ditempatkan sebagai sebuah project dengan salah satu unsur STEM, yakni sains, teknologi, atau matematika.

“STEM dalam sains dan matematika ditempatkan sebagai subject content, artinya ada pada pembelajaran dengan STEM itu sendiri,” tutur Pudin yang juga meraih juara I Gupres Kabupaten Garut tahun 2019 serta juara II Gupres Kabupaten Garut tahun 2018.

“Dalam PJOK, jila olahraganya hanya olahraga biasa tanpa ada teknik, misal jarak tendangan bola, ukuran kekuatan tendangan bola, ukuran lentingan bola dengan perkara sudut dan jarak, STEM tidak masuk. Tapi jika ada teknik-teknik, itu STEM masuk,” jelasnya.

Selain di dua materi yaitu HOTS dan STEM, dalam pelatihan di Belanda tersebut pihaknya juga menerima materi tentang ‘How The Best Teacher’, The 5 Roles Teacher, Model Flipped Classroom, dan Blended Learning. 

Selain menerima materi dan ilmu, para peserta juga menampilkan budaya masing-masing daerah. Adapun Pudin menampilkan budaya pencak silat.

Menurutnya, adanya kegiatan tersebut, Kemendikbud berharap guru Indonesia bisa mengubah paradigma dari mengajar “teacher centered” menjadi “student centered”.

“Guru jangan terlalu menjejali materi apalagi di kelas bawah SD, tapi mendorong siswa untuk aktif dan krearif, serta mendorong siswa sesuai bakat dan minatnya, agar siswa mampu menjawab perkembangan teknologi yang semakin pesat dan cepat berubah. Pendidikan kita harus mampu menjawab tantang Era Revolusi 4.0,” katanya. (Aji MF)***

Diskusikan di Facebook
Baca juga ...