Harga Manggis Anjlok

Dampak Diperketatnya Ekspor ke China

PUSPAHIANG, (KAPOL).-Sudah lebih dari satu pekan ini harga buah manggis di Kecamatan Puspahiang Kabupaten Tasikmakaya untuk kebutuhan ekspor ke negeri China mengalami penurunan harga yang cukup signifikan.

Padahal saat ini stok manggis sedang dalam kondisi berlimpah. Namun sayang banyak dari para petani manggis hingga pengepul malah merugi, bahkan sebagian dari mereka malah nyaris gulung tikar.

Kondisi ini diakibatkan oleh penerapan sistem ekspor buah manggis yang lebih diperketat dari sebelumnya. Di mana pihak eksportir melakukan karantina ekstra dalam mensortir buah manggis hingga berkali-kali. Upaya ini kemungkikan agar buah manggis yang akan dikirim benar-benar terjaga kualitas dan kebersihannya.

Namun sayang sistem baru ini justru berdampak pada bertumpuknya ribuan ton buah manggis karena tertahannya di Bea Cukai sebelum diterbangkan.

“Sekarang ada sistem baru, dimana ekportir lebih selektif sebelum mengirim manggis ke China. Mereka melakukan karantina dan setiap buah manggis diperiksa secara teliti. Agar jangan sampai ada kotoran, semut dan serangga yang terbawa dibuah manggis,” jelas Yanto Jawa (35) salah seorang pengepul dari Desa Deudeul, Kecamatan Taraju.

Akibatnya, para pengepul di Puspahiang pun tidak bisa terus mengirim manggis ke pihak eksportir secara berkala. Karena stok manggis di karantina masih cukup banyak dan mengantri. Tersendatnya rantai perdagangan ini membuat manggis kian lama menumpuk dan susah untuk dijual. Hingga harga dipasaran kian jatuh.

Diketahui saat ini untuk harga buah manggis kualitas super untuk diekspor berkisar Rp 15.000 – Rp 16.000 per kilogram. Anjlol cukup jauh dari harga sebelum pemberlakuan sistem karantina yakni Rp 22.000 – Rp 26.000 per kilogram. Sementara harga buah manggis kualitas BS yang dijual di pasar lokal harganya jauh lebih jatuh yakni Rp 3.000 per kilogram.

Maka kini untuk sementara Yanto menghentikanan aktivitas membeli manggis dari para petani. Upaya ini agar lebih memperkecil kerugian, sebab stok barang di gudangnya masih sangat banyak. Dirinya pun mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah akibat terlanjur membeli manggis, tetapi tidak bisa menjualnya kembali ke eksportir.

Setiap harinya tidak kurang dari 10 ton hingga 15 ton manggis masuk ke 4 lokasi gudang miliknya. Bila ditotalkan rata-rata, manggis yang diberangkatkan dari Puspahiang dari para pengepul lainnya bisa mencapai 100 ton per hari.

“Saya sudah merugi puluhan juta. Banyak juga pengepul yang sudah berhenti dari kemarin, karena memang manggis mereka tertahan di karantina dan sulit di eksport,” tambah Yanto.

Dikatakan dia, manggis yang masuk proses karantina mengalami sortir ketat. Salah satunya memeriksa hingga ke bagian kuping tangkai buah dan dibersihkan kembali. Lain halnya waktu itu hanya cukup disemprot anti serangga dan dibersihkan bagian luarnya saja. (Aris Mohamad F/Jalal)***