IMT Siap Berkontribusi dalam Parawisata

CISAYONG, (KAPOL).- Potensi besar terhadap dunia parawisata di Kabupaten Tasikmalaya dilihat sebagai peluang yang mampu mendongkrak sektor perekonomian daerah.

Sebab pada sektor parawisata nantinya bakal mampu menciptakan multi efek bagi peningkapan ekonomi berkelanjutan disegala bidang.

Mulai ekonomi kerakyatan, peningkatan infrastruktur sampai pendapatan asli daerah.

Peluang inilah yang kemudian mulai dilirik Ikatan Mahasiswa Tasikmalaya (IMT) Bandung ketika melakukan silaturahmi dan halal bihalal di RM Biotirta Desa/Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Kamis (13/6/2019).

Terjun ke sektor parawisata juga bisa dilakukan sebagai cara mereka mengabdikan diri pada daerah tanah kelahirannya Tasikmalaya.

Sebab ketika para mahasiswa ini nanti pulang ke daerah asal, setelah selesai mendalami ilmu perkuliahan pada Universitas yang ada di Bandung, maka mereka bisa terjun menggali serta mengembangkan potensi parawisata.

Dipaparkan Ketua Kelompok Penggerak Parawisata (Kompepar) Kabupaten Tasikmalaya, Asep Jamjam, yang juga alumni dari IMT Bandung, jika sektor parawisata di Kabupaten Tasikmalaya ini sangat berpotensi dan terbuka lebar untuk digali serta dikembangkan lebih luas.

Dimana setiap kecamatan rata-rata memiliki potensi wisata yang bisa diunggulkan.

Para mahasiswa IMT bisa terjun disini, mulai dari sebagai pemandu wisata, pengelola objek wisata hingga agensi wisata.

“Jadi itu (sektor parawisata) sangat terbuka lebar dan banyak yang bisa dikembangkan di Kabupaten Tasikmalaya. Silahkan mulai petakan disetiap daerah masing-masing, kita bisa masuk ke wilayah saja,” papar pria yang akrab dipanggil Asjam ini.

Hadir pula dalam silaturahmi ini sejumlah alumni IMT Bandung dan Himasika (Himpunan Mahasiswa Tasikmalas) era tahun 90-an dan 2000-an.

Mulai H. Noves Narayana, H. Dede Teja, H. Abdul Hamid, Hamdan Syukri, Abar, hingga Kepala Desa Cisayong Yudi Cahyudin.

Perwakilan alumni, H. Abdul Hamid sangat merespon baik akan adanya potensi-potensi yang bisa digarap dan dikembangkan oleh para mahasiwa IMT Bandung sebagai momen mengabdi ke daerah.

Tidak hanya untuk organisasi IMT saja, tetapi inipun bisa menjadi ladang penghidupan bagi pribadi hingga banyak orang yang dilibatkan.

Dirinya mengaku mensuport akan gagasan ini hingga diharapkan bisa segera bergerak.

“Ini merupakan peluang besar. Dimana parawisata sangat minim resiko, dengan investasi terbilang kecil namun mampu menghasilkan besar dan berkelanjutan. Apalagi Gubernur Ridwan Kamil saat ini sedang konsen pada pengembangan sektor parawisata,” jelasnya.

Begitu pula Kepala Desa Cisayong, Yudi Cahyudin memaparkan, dimana setiap desa bisa menggali potensi desanya masing-masing. Salah satunya di sektor parawisata.

Seperti dilakukan pihaknya ketika membangun proyek monumental Lapangan Bola Lodaya Sakti yang kini telah viral karena memiliki tarap standar internasional.

Kini lapang tersebut pun bisa menghasilkan puluhan juta rupiah perbulannya.

“Mereka yang datang kesini tidak hanya untuk bermain sepak bola, tetapi juga untuk berwisata dan sekedar foto-foto di lapangan Sakti Lodaya,” jelasnya.

Demisioner IMT Bandung, Misbah Ames El-azam mengaku cukup tertarik dan tertantang dengan adanya celah terjun dalam dunia parawisata.

Bahkan hal ini sejalan dengan konsep yang telah IMT Bandung canangkan.

Dimana pada beberapa waktu lalu, pihaknya telah melakukan susur wisata ke sejumlah tempat wisata di Kabupaten Tasikmalaya.

Mulai dari jelajah air terjun, kawasan pantai, pegunungan hingga danau. Upaya ini tiada lain guna mengenali dan menggali potensi-potensi parawisata yang ada di Tasikmalaya. (Aris Mohamad F)***

Diskusikan di Facebook
Baca juga ...