Ini Sikap FKUB Garut Terkait Aksi Teror Bom

TARKI, (KAPOL).-Aksi teror bom yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia belum lama ini telah mengundang keprihatinan berbagi kalangan masyarakat. Tak terkecuali masyarakat Garut termasuk di dalamnya para tokoh agama yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Garut.

Menyikapi maraknya aksi teror bom tersebut, FKUB Garut menyatakan keprihatinannya dan berharap hal itu tidak sampai terulang. Sejumlah perwakilan dari berbagai agama yang ada di Kabupaten Garut itu pun kemudian menggelar rapat koordinasi di aula Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Garut.

Ketua FKBU Kabupaten Garut, Djohan Djauhari, mengatakan dari hasil pertemuan yang dilangsungkan di Kantor Bakesbangpol Garut di Jalan Patriot, Kecamatan Tarogong Kidul, Selasa (15/5/2018), dihasilkan delapan poin sebagai pernyataan sikap FKUB Garut.

Pernyataan sikap FKUB ini juga diketahui dan akan turut ditanda tangani oleh Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopinda) Garut.

“Rapat koordinasi FKUB ini kita gelar menyusul terjadinya serentetan peristiwa yang telah menimbulkan keresahan masyarakat. Sebagaimana kita ketahui, belum lama telah terjadi kerusuhan di Mako Brimob, Kota Depok dan bom bunuh diri di Surabaya, Jawa Timur.
Ini sangat kita sesalkan,” ujar Djohan yang saat itu didampingi perwakilan dari beberapa agama yang ada di Garut.

Ke delapan poin yang menjadi pernyataan sikap FKUB garut tersebut, tutur Djohan, yakni satu, menyampaikan keprihatinan serta duka cita yang sedalam-dalamnya atas korban di tiga gereja dan Mapolrestabes Surabaya, Jawa Timur. Dua, menyatakan dengan tegas bahwa tindakan para pelaku teroris dan radikalisme adalah merupakan tindakan yang keluar dari nilai-nila ketuhanan, keagamaan, dan kemanusiaan.

Tiga, mengutuk pelaku tindakan bom bunuh diri, terorisme, latar belakang yang menggunakan kekerasan, menebarkan rasa kebencian, di antara perbedaan keyakinan ketuhanan dan keagamaan. Empat, mendesak kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dan pemerintah untuk menyelesaikan rancangan undang-undang (RUU) terorisme agar menjadi UU.

“Apabila pengesahan udang-undang terorisme ini terus berlarut-larut, maka kami mendesak kepada presiden untuk mengeluarkan peraturan pemerintah sebagai pengganti undang-undang,” kata Djohan.

Poin kelima, tambahnya, FKUB Garut menyampaikan rasa belasungkawa sangat mendalam kepada seluruh keluarga korban serta berharap mereka tetap tabah dalam menghadapi musibah yang dialami agar disikapi secara lapang dada, tabah, dan kesabaran.

Tujuh, meningkatkan tali silaturahmi antar umat beragama melalui FKUB Kabupaten Garut dan poin ke delapan FKUB Kabupaten Garut tetap menjamin kebersamaan dan kerukunan umat beragama serta terciptanya suasana kondusif di Kabupaten Garut.

“Kami yang hadir di sini atas nama FKUB Garut ini mewakili beberapa agama yang ada di Kabupaten Garut, di antaranya islam, hindu, buddha, kristen protestan, katolik, dan konghucu. Intinya kami sepakat mengutuk keras segala jenis kekerasan atas dasar apapun serta kami turut prihatin atas nasib yang menimpa pra korban teror bom,” ucap Djohan.

 Aman Dari Ancaman Teror

Sementara itu Kepala Badan Kesatuan bangsa dan Politik (Bakesbangpol) kabupaten Garut, Wahyudijaya, membenarkan di kantornya telah ada pertemuan sejumlah tokoh agama yang ada di Garut yang tergabung dalam FKUB. Wahyu mengaku sangat mengapresiasi langkah yang telah dilakukan FKUB Garut dalam menyikapi rentetan aksi teror bom baru-baru ini.

Terkait masalah keamanan di wilayah Kabupaten Garut saat ini, menurut Wahyu di Garut dapat diupastikan situasi pascateror bom di Surabaya terpantau landai.

Hal ini menurut Wahyu tak terlepas dari adanya sinergitas berbagai pihak yang ada di Garut mulai dari pemerintahan, aparat keamanan, para tokoh agama, hingga ke lapisan masyarakatnya.

“Adanya sinergitas yang terbangun dengan baik di Garut ini mudah-mudahan tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Hingga saaat ini, alhamdulillah Garut masih relatif aman,” kata Wahyu.

Disinggung mengenai adanya mantan narapidana teroris (napiter) yang bermukim di wilayah Garut, ia memastikan mantan napiter tersebut tidak terlibat dalam aksi yang belum lama ini terjadi. Mantan teroris yang ada di Kecamatan Bungbulang tersebut dipastikan sudah tidak terkoneksi atau berafiliasi dengan jaringan radikal manapun.

Dari data yang ada di Kesbangpol Garut, terang Wahyu, mantan napiter tersebut belajar merakit bom setelah melihat panduan dari internet dan ilmu dari kakeknya yang berprofesi sebagai pembuat petasan.

Namun sebagailangkah antisipasi munculnya aksi teror, Wahyu menilai tak ada salahnya pihaknya mengajak kepada seluruh masyarakat Garut untuk sama-sama mengantisipasi jika menemukan hal yang mencurigakan. Wahyu juga minta agar masyarakat Garut tidak mudah terpengaruh dengan munculnya isu-isu ataupun berita hoak karena hal itu bisa memicu hal yang tak diharapkan.(Aep Hendy S)***

Komentari