Jangan “Tuman” Hoaks

INDIHIANG, (KAPOL).-Pengamat sosial Tasikmalaya, Asep M. Tamam menyikapi kampanye menjelang pemilu 17 April 2019 ke arah tidak sehat. Kampanye negatif, hoaks perlu perlawanan dan tidak mentolelir upaya tersebut karena bisa mewariskan dendam politik ke pemilu di periode selanjutnya.

“Kita harus terus bersuara melawan hal itu. Di waktu injuri time, satu bulan menjelang pemilihan ini aura negatif politik lebih terasa dan daya tularnya sangat mudah. Tuman kurang layak,” ujarnya ketika dihubungi, “KP” Kamis (14/3/2019).

Akhir-akhir ini, meme tuman memang tengah viral di media sosial. Tuman sendiri istilah akrab di masyarakat sunda. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tuman diartikan menjadi gemar atau menjadi biasa.“Menjadi biasa (suka, gemar, dan sebagainya) sesudah merasai senangnya, enaknya, dan sebagainya.”

Pengajar di sejumlah perguruan tinggi ini melihat, pola kampanye tidak lagi menggunakan adu strategi, visi dan misi serta mengangkat calon yang diusung dan didukung. Tetapi menggunakan kampanye downgrade lawan untuk mengurangi dan merendahkan elektabilitas. Meskipun secara fakta dan materinya benar adanya.

“Entah kampanye positif itu sudah tidak efektif. Ini mengarah kepada persaingan yang sangat tidak sehat,” katanya.

Di jejaring media sosial Facebook, akun Agus Wahyudin pun menulis orang yang beruntung dan merugi di tahun politik. Paling beruntung adalah Jokowi dan Prabowo karena setiap hari diserbu gunjingan dan dihujani cacian, semakin kencang hinaan dan cacian terhadap keduanya semakin banyak pahala yang diraih keduanya.

“Adapun orang yang paling merugi di tahun politik adalah para pendukung Jokowi dan Prabowo, dengan penuh amarah saling lempar BOM “Angkara Murka”.. Kerugian terbesar yang didapat pendukung keduanya dikarenakan telah menjadikan “Jokowi dan Prabowo” sebagai “tuhan” tempat bersandar dari segala harap dan hasrat hidup nya.

Sedangkan TUHAN YANG MAHA KUASA disematkan diantara kepungan nafsu serta dendam kesumat,” tulis Ketua DPRD Kota Tasikmalaya ini.

Ia berharap hanya satu harapan semoga Tuhan menurunkan malaikat-Nya untuk membisikan ke dalam bawah sadar masing-masing pendukung, bahwa pilpres bukan medan tempur dengan kaum kufur, melainkan sarana latihan kesabaran orang beriman dalam menentukan masa depan.” (Inu Bukhari)***