Kajari, Sensen Harus Kembali Diproses Jika Menyebarkan Ajarannya

TARKI, (KAPOL).-Maraknya kembali ajaran Sensen Komara bin Bakar Misbah akhir-akhir ini mengundang perhatian jajaran Kejaksaan Negeri (Kejari) Garut. Hal ini tidak boleh dibiarkan dan penegak hukum harus segera menindaklanjutinya.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Garut, Azwar, menilai kemunculan kembali ajaran yang mengakui Sensen sebagi rasul serta ajaran salat menghadap arah timur harus segera mendapatkan penanganan. Selain itu, apabila terbukti Sensen kembali aktif menyebarkan ajarannya, ia harus kembali diproses.

“Ajaran yang disebarkan Sensen bahwa dirinya sebagai rasul dan juga ajaran salat menghadap ke arah timur itu kan sudah dinyatakan sesat. Ini tentu tak boleh kita biarkan dan harus segera dilakukan penanganan,” komentar Azwar saat ditemui di Kantor Kejari Garut, Jalan Merdeka, Selasa (4/12/2018).

Ia juga menyatakan pihak penegak hukum tentunya wajib menindaklanjuti laporan terkait maraknya kembali ajaran sesat yang disebarkan Sensen. Apa yang dilakukan Sensen ini diduga merupakan tindak pidana karena terdapat unsur penistaan agama sehingga harus diproses secara hukum.

“Harus diselidiki juga apakah perbuatan makarnya juga kembali ia lakukan apa tidak. Karena kita kan sama-sama tahu jika ia selama ini mengaku sebagai Presiden Negara Islam Indonesia (NII),” katanya.

Sebagai Ketua Badan Koodinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem), Azwar menyatakan dirinya akan segera menjalankan fungsinya dengan pihak terkait, terutama Pemkab Garut. Selain itu, akan dilakukan pula pembinaan ke kantong-kantong pengikut Sensen agar mereka sadar bahwa ajaran yang disebarkan Sensen itu salah bahkan sesat.

Untuk Sensennya sendiri menurut Azwar harus kembali diproses sesuai hukum yang berlaku. Namun apabila hasil pemeriksaan medis menyatakan ia masih mengidap sakit jiwa, maka akan direkomendasikan untuk ditempatkan di rumah sakit jiwa tanpa melalui proses persidangan.

Dalam kesempatan tersebut Azwar menegaskan pihaknya telah melakukan apa yang menjaadi keputusan pengadilan terhadap Sensen. Sesuai putusan hakim, Sensen telah dieksekusi untuk menjalani rehabilitasi di rumah sakit jiwa. Eksekusi tersebut dilaksanakan pada bulan Desember 2012 lalu.

“Pernyataan ini saya ungkapkan sekaligus untuk membantah adanya tudingan yang menyebutkan Kejaksaan tidak pernah melaksanakan eksekusi terhadap Sensen. Itu sudah kami laksanakan sesuai dengan hasil keputusan pengadilan saat itu,” tuturnya.

Azwar membeberkan, pihaknya memang tidak mengeksekusi Sensen dengan cara memasukannya ke penjara karena memang putusan hakim sudah jelas kalau Sensen harus direhabilitasi karena dinyatakan mengalami gangguan jiwa. Jika saat itu Kejaksaan
mengeksekusi Sensen dengan mengirimnya ke penjara, justeru itu menyalahi aturan.

Dalam sidang yang dilaksanakan tahun 2012 lalu, tambah Azwar, Sensen dinyatakan terbukti bersalah melakukan perbuatan makar dan penistaan agama. Hanya saja dari saksi ahli, Sensen dinyatakan mengidap penyakit kejiwaan sehingga majelis hakim memutuskan Sensen harus diobati dan menjalani rehabilitasi.

Masih menurut Azwar, pernyataan bahwa Sensen mengidap gangguan kejiwaan diungkapkan dua ahli jiwa yang didatangkan di persidangan saat itu. Bahkan disebutkan jika Sensen mengidap gangguan jiwa stadium tiga yang sulit untuk disembuhkan.

“Hakim akhirnya memutuskan Sensen direhabilitasi selama satu tahun di RSHS Bandung. Namun karena di RSHS tak ada ruang
perawatan, akhirnya Sensen dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa Cisarua, Lembang selama satu tahun dengan biaya perawatan dibebankan kepada negara yakni Pemprov dan Pemkab,” ucap Azwar.

Lebih jauh diungkapkannya, setelah menjalani perawatan di RSJ Cisarua, pada akhir tahun 2013 Sensen keluar dari rumah sakit. Di sisi lain putusan pengadilan pun telah tuntas dilaksanakan sehingga tak benar jika ada yang mengatakan Sensen tak pernah dieksekusi sesuai putusan pengadilan.

Diakuinya, sebelumnya memang sempat ada beberapa pihak termasuk di antaranya MUI yang mempertanyakan eksekusi hasil putusan
pengadilan terhadap Sensen. Namun semuanya saat itu sudah dijelaskan sesuai apa yang telah dilaksanakan.(Aep Hendy S)***

Komentari