Kasus Dana Hibah Tasikmalaya, Polda Jabar Tetapkan 9 Tersangka

BANDUNG, (KAPOL).- Polda Jabar menetapkan sembilan tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi dana hibah organisasi kemasyarakatan Kabupaten Tasikmalaya tahun 2017.

Jumlah dana hibah tersebut, Rp 3.900.000.000 yang sumbernya dari APBD Kab. Tasikmalaya TA 2017.

Enam tersangka di antaranya Aparatur Sipil Negara (ASN) dan tiga tersangka sebagai wiraswasta. Abdul Kodir sebagai Sekda Kab. Tasikmalaya, Maman Jamaludin (Kabag Kesra), Endin sebagai Irban Inspektorat, Alam Rahadian (Sekertaris DPKAD), Ade Ruswandi (staf Bag Kesra), Eka Ariansyah (staf Bag Kesra), Lia Sri Mulyani (wiraswasta), Mulyana (wiraswasta) dan Setiawan (petani).

Kapolda Jabar, Irjen Agung Budi Maryoto mengatakan, modus operandinya pada tahun anggaran 2017, Kab. Tasikmalaya menganggarkan hibah dengan nama kegiatan belanja dana hibah organisasi kemasyarakatan yang sumbernya dari APBD Kab. Tasikmalaya tahun 2017.

Peruntukannya, kata dia, instansi, organisasi kemasyarakatan dan lembaga keagamaan se-Kab. Tasikmalaya.

“Dalam kegiatan belanja dana hibah organisasi kemasyarakatan, ada hibah untuk 21 yayasan/lembaga keagamaan yang diduga diselewengkan atau disalahgunakan oleh beberapa oknum di antaranya ASN dan warga sipil, sehingga menimbulkan kerugian negara,” katanya pada konferensi pers di Mapolda Jabar, Jumat (16/11).

Baca Juga: Kasus Dana Hibah Tasikmalaya, Belum Mengarah ke Kang Uu

Dikatakan, kerugian negara sebesar Rp 3.900.000.000 dan beberapa barang bukti diamankan.

Seperti, kata dia, 2 unit sepeda motor, 1 unit mobil kijang, sebidang tanah di Desa Sukamulya Kec. Singaparna seluas 82 M2, uang tunai Rp 1.951.000.000.000 (satu miliar sembilan ratus lim puluh satu juta rupiah).

Kemudian, Polda Jabar menerima surat P-21 dari kejati, melakukan penahanan terhadap 9 tersangka dan pelimpahan tersangka serta barang bukti (tahap II) ke kejati.

Lebih lanjut dia mengatakan, penyelewengan berawal dari adanya perintah dari tersangka AK, tersangka MJ, tersangka E kepada tersangka A RM dan tersangka EA, untuk mencarikan uang dari yayasan penerima dana hibah.

Kemudian, tersangka ARM dan tersangka EA menyuruh tersangka LSM untuk mencarikan yayasan penerima hibah.

“Selanjutnya tersangka LSM menyuruh tersangka M untuk mencarikan yayasan penerima dana hibah. Kemudian, tersangka M menyuruh tersangka S untuk mencarikan yayasan dan membuatkan proposal pengajuan serta memotong dana hibah yang cair,” katanya.

Dikatakan, kemudian uang hasil pemotongan dana hibah untuk 21 yayasan tersebut dibagi sesuai kesepakatan, ke 21 yayasan memperoleh 10 persen sebesar Rp 395 juta, tersangka S memperoleh 10 persen Rp 385 juta.

Kemudian, tersangka M memperoleh 17,5 persen sebesar Rp 682.500.000, tersangka LSM memperoleh 3,5 persen Rp 136.500.000, tersangka ARM dan EA memperoleh 9 persen Rp 351.000.000.

Selanjutnya, tersangka AK memperoleh 50 persen dari pemotongan dana hibah 16 yayasan sebesar Rp 1.400.000.000.

“Tersangka MJ memperoleh 50 persen dari pemotongan 3 yayasan Rp 350.000.000. Tersangka E mantan kabag kesra yang sekarang sebagai Irban Inspektorat memperoleh 50 persen dari 2 yayasan Rp 70 juta. Kemudian dibagikan ke tersangka AR sebesar Rp 105 juta,” ucapnya.

Kedua tersangka itu, kata dia, telah melakukan pengembalian kerugian negara melalui kas daerah.

“Pengungkapan perkara tersebut, penyelidikannya belum mengarah ke Wagub Jabar Uu yang pada saat itu sebagai Bupati Kab. Tasikmalaya,” ujarnya. (Azis Abdullah)***

Komentari