Kaulinan Barudak Dihayati Siswa Berkebutuhan Khusus

INDIHIANG, (KAPOL).- Pasanggiri Maca Sajak Sunda XVI di SMA/SMK Pasundan 2 diwarnai kaulinan barudak oray-orayan yang dimainkan siswa berkebutuhan khusus.

Pertunjukan yang mengundang rasa haru itu ditampilkan siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Bahagia, Kota Tasikmalaya.

“Anak-anak berkebutuhan khusus ini ternyata tak kalah kreatif,” kata Siska Sintiana Kresis, salah seorang guru pembimbing.

Menurutnya ada tujuh siswa yang tidak bisa mendengar, empat siswa memiliki keterbelakangan mental. Tetapi dengan gembira mereka bisa tampil di depan publik.

Walaupun tidak bisa mendengarkan musik mereka bisa menari. Mengikuti ketukan. “Pernah suatu waktu, musik yang diputar di laptop mati, namun mereka tetap menari. Mereka ada dan mereka bisa. Mereka pun punya hak yang sama dengan kita,” katanya terharu.

Yang hadir di acara itu terpaku pertunjukan itu. Mereka turut menghayati. Tanpa diduga salah seorang siswa turun dari panggung. Mengajak Ketua Fraksi PKB DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Oleh Soleh yang tampak hadir saat itu. Diajak menari dan bermain oray-orayan.

Kepala SMA/SMK Pasundan 2, Eri Kustiaman menuturkan Pasanggiri Sajak Sunda itu sudah digelar ke-16 kali. Sempat vakum dua tahun. “Terkendala biaya,” katanya.

Namun karena dorongan dari berbagai pihak, kali ini digelar kembali. Menurut dia, Pasanggiri Sajak Sunda tingkat SD/MI, SMP/MS, SMA/MA/SMK yang digelar Teater Kappas itu sudah turut mengantar para pembaca sajak ke berbagai ajang pasanggiri di Jawa Barat.

Ketua Fraksi PKB DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Oleh Soleh menandaskan, ikhtiar mandiri itu harus diapresiasi. “Ini (digelar) tanpa membebani APBD, kan?” katanya. Menurut dia, langkah itu sebagai salah satu wujud jihad budaya.

Komentari