Kecewa, Guru Honorer di Garut, Kirim Surat ke Jokowi

GARUT, (KAPOL).- Kecewa karena tak menerima THR dan tak boleh ikut seleksi CPNS, Juli 2018 mendatang, guru honorer di Kabupaten Garut melayangkan surat ke Presiden Joko Widodo.

Mereka, diantaranya guru honorer yang sudah berusia di atas 35 tahun.

Isi surat itu pun viral di media sosial yang juga materinya diterima sejumlah insan pers.

“Sanes guru honor di Garut wae, tapi ieu mah sa Indonesia sami kecewa teras ngintun serat ke Pa Presiden,” kata Entin salah seorang guru honorer.

Dalam surat itu mereka memberikan apresiasi kepada Presiden yang telah memberikan kebijakan bahwa lebaran tahun ini PNS diberikan THR yang utuh, artinya dibayar gaji pokok dengan tunjangan.

Namun, dibalik itu mereka juga mengungkapkan terselip rasa duka yang mendalam bagi guru honorer.

Karena jangankan THR yang utuh, nilai gaji mereka pun masih jalan di tempat dan tak layak termasuk juga mereka mengaku tunjangan sertifikasi yang tak cair.

“Selama ini kami bekerja hanya dibedakan dengan status PNS saja. Karena kalau tanggungjawab kerja Ya kami juga cape sama dengan guru PNS,” ujar guru honor lainya. Terpisah, Ketua Forum Aliansi Guru Karyawan Honorer (Fagar) DPC Garut, Cecep Kurniadi berharap ke depannya pemerintah dapat menganggarkan THR untuk guru honorer.

“Meskipun tidak sama besarannya dengan guru PNS, tapi kalau sudah dianggarkan nilainya akan laik lah,” kata Cecep, Senin (11/6/2018).

Dia menuturkan, sekarang ini dalam Peraturan Daerah (Perda) yang disamakan itu kewajibannya saja. Akan tetapi hak nya sangat jauh.

“Makanya saya berharap ke depan Perda itu bisa dirubah lah. Di Perda yang disamakan kewajibannya saja, kalau Haknya terlalu jauh. Apalagi soal guru honorer di atas 35 tahun yang tak bisa ikut seleksi. Kalau itu terlalu menyakitkan,” ucapnya. (Dindin Herdiana)***

Komentari