Kades Petahana Berguguran, Caleg Petahana Bisa Tumbang

BANJAR, (KAPOL).- Pemilihan serentak Kepala Desa di Kota Banjar tempo hari, Rabu (31/10/2018) penuh kejutan. Dari lima kades petahana, cuma satu petahana yang berhasil terpilih lagi. Empat petahana tumbang.

Menurut pemerhati politik, sekaligus dosen STISIP Bina Putra Banjar, Sidik Firmadi S.IP., MIP., hasil Pilkades serentak 2018 di Kota Banjar, merupakan warning atau peringatan bagi para caleg petahana yang bertarung kembali tahun 2019.

“Dimungkinkan caleg pendatang baru, mampu menyingkirkan caleg petahana di masa mendatang. Kekalahan Kades petahana ini sebuah fakta baru, sekaligus petunjuk banyak masyarakat yang mengharapkan perubahan dan pembaharuan ,”ujar Sidik Firmadi, Jumat (2/11/2018).

Dijelaskan dia, fenomena kekalahan para kades petahana itu dapat dijadikan pelajaran bagi para caleg petahana yang kembali maju dalam pileg tahun 2019, nantinya.

“Harus diingat, status petahana itu sebenarnya berat. Karena, masyarakat sudah bisa menilai kinerja petahana selama periode menjabatnya. Jika dirasa berkinerja kurang baik, maka bisa saja akan bernasib sama dengan para kades petahana,” ujarnya.
Berlatar itu, dia berharap kepada caleg petahana pada Pemilu 2019 nanti mampu memperbaiki kinerja agar tidak tumbang dalam pileg di masa mendatang.Berbuat baiklah, mumpung masih ada waktu jelang pencoblosan Pemilu 2019,” ujarnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, kekalahan calon petahana dalam sebuah kontestasi perebutan jabatan politik, setidaknya dapat dilihat melalui dua faktor. Pertama, berkaitan kinerja para calon petahana selama periode pertama, misal saat Kades menjabat.

“Saat memimpin sebagai kepala desa, logika sederhana yang biasa dipakai adalah ketika kinerja sang petahana baik dan bisa membuat masyarakat puas, maka kemungkinan besar masyarakat akan memilihnya kembali,” ujarnya.

Faktor kedua, dikatakan dia, berkaitan strategi politik selama melakukan kampanye. Semua paham, kampanye yang dikelola dengan baik dan menarik, dipastikan mampu menarik simpati dan suara masyarakat.

“Ditelisik lebih jauh, fenomena kekalahan kades petahana lebih disebabkan karena faktor kinerja dari kades tersebut. Mungkin kinerja para kades petahana tersebut tidaklah buruk, namun ada dugaan para kades petahana itu gagal memenuhi janji dan ekspektasi masyarakat. Akhirnya, masyarakat memilih figur lain yang dinilai lebih mampu,” ujarnya.

Yang perlu diingat dan menjadi perhatian bagi semua orang adalah bahwa level kepemimpinan kades adalah level kepemimpinan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat, sehingga apabila kinerja seorang kades tidak terlalu baik atau gagal memenuhi ekspektasi dari masyarakat, maka akan mudah menjadi sorotan dan dinilai gagal oleh masyarakat.

Sementara itu, peroleh suara Pilkades di Desa Jajawar, Kec. Banjar, Samsudin (petahana) meraih 882 suara dan Dedi Supriadi sebanyak 649 suara.

Desa Sinartanjung, Kec Pataruman, Suwarman (petahana) meraih 866 suara dan Asep Hendra Sugiharto sebanyak 1.495 suara.
Desa Sukamukti, H.Yosep Firmansyah (petahana) 672 suara, dimenangkan Budi Haryono dengan jumlah 736 suara, Toto Robiantoro 33 suara dan Kasiman Saefullah sebanyak 705 suara.

Desa Rejasari, Kecamatan Langensari, Nanang Sunarya (petahana) 1.035 suara.Suara terbanyak dimenangkan Sobur Waluyo sebanyak 1.596 suara, Waginah Lasmawati 1.337 suara, Suminardi 282 suara dan Koko Sutarto 487 suara.
Desa Kujangsari, Siti Aisah (petahana) 1.204 suara, suara terbanyak Mujahid 2.707 suara, Soleh 1.638 suara.(D. Iwan)

Komentari