Kelainan, Mata dan Hidung Ani Tertutup

INDIHIANG, (KAPOL).-Tidak banyak aktifitas yang bisa dilakukan Ani Sumarni (49). Warga Kampung Paojan, Rt 1/10 Kelurahan Parakan Nyasag Indihiang Kota Tasikmalaya ini hanya bisa berdiam diri di rumah.

Selama dua tahun terakhir kelainan menyerupai daging membesar menutupi mata kiri dan hidungnya. Rasa sakit kepala dan gatal selalu menghinggapi sehari-hari.

“Pusing hebat pak, sesak nafas dan gatal. Dulu masih bisa buburuh, sudah dua tahun ini semenjak benjolan membesar saya sulit beraktifitas. Ke WC saja harus digendong keluarga. Nama penyakitnya saja tidak tahu, sulit disebutkan namanya,” ujarnya ketika ditemui di kediamannya, Kamis (31/1/2019).

Upaya untuk berobat memang sudah dilakukan semenjak benjolan tersebut semakin membesar. Sebelumnya hanya ada titik kemerahan di antara kedua alisnya.

“Sudah dua kali berobat menggunakan kartu indonesia sehat di RS Hasan Sadikin Bandung, tapi tidak kuatnya membiayai yang mendampingi di sana,” katanya.

Apa daya, perempuan sebatang kara tersebut hanya mengandalkan adik dan kakaknya untuk mencukupi biaya hidup sehari-hari. Kedua kerabat terdekatnya itu hanya berprofesi sebagai buruh bangunan. Menurut dokter, sudah waktunya dilakukan operasi secara bertahap.

“Sempat putus asa ketika luka membuat darah segar mengucur sebanyak dua baskom besar,” katanya.

“Dokter yang menangani di RSHS juga pensiun dan pindah ke RS Dustira Cimahi. Kalau sekadar operasi saya siap saja, tapi biayanya dari mana untuk nanti yang menemani. Pulang pergi Bandung-Tasik saja sudah berapa, belum biaya hidup,” ujarnya dengan nada nelangsa.

Ketua RT setempat, Aisyah mengatakan Ani memang sudah terdata untuk mendapatkan jaminan kesehatan gratis dari pemerintah. Namun untuk biaya sehari-hari saat pengobatan yang paling diperlukan karena yang bersangkutan sudah tidak bisa lagi bekerja.

“Dulu masih bisa bekerja, sekarang sudah tidak bisa banyak aktifitas,” katanya.

Koordinator Jabar Quick Response Kota Tasikmalaya, Sudrajat mengatakan verifikasi sudah dilakukan ke lokasi. Fasilitasi secara teknis sesuai tugas dan bukan dalam bentuk biaya.

“Kalau keluarganya tidak keberatan, nanti kita siapkan kendaraan dan pendampingan saat di Rumah Sakit. Ibunya tinggal masuk saja,” katanya.

“Kita tadi sudah laporkan dan menunggu hasil kajian dari pusat. Prinsipnya kita melakukan aksi kemanusiaan terhadap warga yang membutuhkan,” ujarnya ketika ditemui di lokasi. (Inu Bukhari)***