oleh

Kerusuhan di Wamena dan Jayapura, 25 Warga Garut Jadi Pengungsi

WARGA Garut bisa dikatakan sebagai perantau karena mereka terdapat di hampir semua wilayah di bumi nusantara ini.

Selama ini tak banyak yang mengetahui jika warga Garut ternyata banyak juga yang merantau di Papua, termasuk di antaranya di daerah Wamena.

Cukup banyaknya warga Garut yang merantau di daerah Wamena baru terungkap setelah terjadi kerusuhan di dua daerah tersebut.

Kerusuhan yang terjadi di Wamena menyebabkan banyak warga pendatang yang merasa terancam dan akhirnya memilih mengungsi dan kembali ke daerah asalnya.

Dari informasi yang dihimpun KP, saat ini terdapat 25 warga kabupaten Garut yang menjadi pengungsi pascakerusuhan melanda Wamena.

Dari jumlah tersebut, 18 orang di antaranya saat ini sudah berada di wilayah Jayapura dan menunggu agar bisa kembali ke Garut.

“Dari data sementara yang kami dapatkan, saat ini ada 25 orang warga Garut yang menjadi pengungsi pascakerusuhan di Wamena. Namun ini masih data sementara karena bisa saja akan bertambah atau juga berkurang,” ujar Plt Kepala Dinas Sosial Garut, Nurdin Yana, Senin (7/10/2019).

Dikatakan Nurdin, saat ini pihaknya masih terus mencari kejelasan terkait jumlah warga Garut yang jadi pengungsi akibat kerusuhan Wamena.

Koordinasi denga pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar pun terus dilakukan dengan harapan akan didapatkan data yang benar-benar valid.

Selain terkait jumlah tuturnya, koordinasi dengan pihak Pemprov Jabar juga dilakukan guna mendapatkan kepastian kapan mereka akan dipulangkan ke Garut.

Berdasarkan informasi dari Dinsos Pemprov Jabar, warga Jabar termasuk dari Garut yang saat ini jadi pengugsi di Wamena akan sampai di Pemprov Jabar Selasa (8/10/2019) sore.

“Hasil koordinasi dengan pihak Pemprov Jabar, besok (hari ini) mereka direncanakan sudah tiba di Pemprov Jabar. Kami dari Pemkab Garut pun akan langsung berangkat ke sana untuk membawa pulang mereka ke Garut,” katanya.

Nurdin menyebutkan, setibanya di Bandung, para pengungsi akan dibawa ke kantor Baznas Provinsi Jabar dan mereka akan mendapatkan santunan dari Baznas Jabar.

Setelah itu, mereka baru bisa dibawa pulang ke daerah asalnya masing-masing.

Dari Wamena sendiri kata Nurdin, kepulangan para pengungsi asal Jabar ini difasilitasi oleh Pemprov Jabar.

Diharapkan jadwal kedatangan mereka ke Jabar sesuai dengan yang sebelumnya sudah diagendakan.

Nurdin juga menerangkan, informasi yang diterimanya menyebutkan jika warga Garut tak ada yang menjadi korban kerusuhan di Wamena.

Namun demikian mereka dihantui trauma yang cukup hebat sehingga takut untuk tetap tinggal di Wamena dan memilih untuk kembali ke Garut.

Menurut Nurdin, rata-rata mereka sudah berada lebih dari satu tahun di Wamena. Di sana mereka bekerja sebagai penjual gordeng dan ada juga yang memasang wallpaper dinding.

Sarif (30), salah seorang warga Garut yang menjadi pengungsi di Papua menyebutkan ia dan warga Garut lainnya sudah sekitar dua minggu mengungsi di Jayapura.

Bersama dengan dirinya, saat ini ada 16 warga Garut lainnya yang juga ditampung di Dinas Sosial Jayapura.

Diungkapkan warga Kampung Cimanggah, Desa Banjarsari, Kecamatan Bayongbong ini, sebelum berhasil mengungsi ke Jayapura, ia dan rekan-rekannya sempat terjegal selama satu minggu di Wamena.

Kerusuhan yang terjadi di Wamena saat itu benar-benar sangat mencekam dan membuat mereka ketakutan.

“Untung kami masih berhasil menyelamatkan diri dan kami langsung mengungsi ke Makodim Wamena saat itu,” tutur Sarif.

Setelah smepat mengungsi di Makodim Wamena, diungkapkan Sarif ia dan yang lainnya berusaha untuk bisa keluar dari daerah tersebut mengingat kondisi keamanan yang masih sangat rawan.

Setelah sempat tertahan selama dua hari di bandara, Sarifpun akhirnya mendapatkan pesawat yang menuju Jayapura.

“Saat ini saya sudah berada di Jayapura dan alhamdulillah situasi keamanan di sini jauh lebih baik dan saya merasa aman di sini. Namun saya teap ingin segera pulang ke Garut,” katanya.

Sarifpun menceritakan pengalamannya untuk bisa sampai ke Jayapura dari Wamena. Ternyata di bandara sudah terdapat ribuan orang yang juga ingin berangkat ke Jayapura karena ketakutan berada di Wamena.

Tak heran kalau saat pesawat datang, ribuan orang itupun harus berebut agar bisa masuk ke dalam pesawat.

Lebih jauh Sarif menyampaikan, di Wamena ia bekerja sebagai pemasang interior rumah muali dari masang wallpaper dinding dan juga ngecat rumah.

Saat kerusuhan terjadi, dirinya bersama sejumlah teman-temannya baru saja bersiap-siap mau bekerja yakni berkeliling menawarkan jasa pemasangan interior rumah.

Beruntung saat itu Sarif dan teman-temannya sesama orang Garut masih bisa menyelamatkan diri dari aksi penyerangan dan penganiayaan.

Namun demikian ada juga rekan kerja Sarif yang berasal dari Sukabumi yang sempat jadi korban penganiayaan.

“Teman saya yang dari Sukabumi itu sempat dibacok di bagian kepalanya hingga terluka. Untung dia masih kuat berlari dan kabur sehingga nyawanya masih bisa terselamatkan,” ujar Sarif.

Masih meurut Sarif, hingga saat ini ia dan 17 orang lainnya yang sama-sama berasal dari Garut masih berada di Jayapura dan menunggu kepastian kapan mau dipulagkan ke Garut.

Namun demikian ia mengaku sudah ada komunikasi dengan peihak Pemprov Jabar yang mengabarkan akan segera menjemputnya ke Jayapura untuk kemudian membawanya pulang ke Jawa Barat.

“Keinginan kami saat ini hanyalah secepatnya dibawa pulang ke kampung halaman. Sayadan juga teman-teman dari Garut sangat trauma sehingga tak ingin lagi kembali ke Wamena karena kondisinya sudah benar-benar kacau,” katanya. (KAPOL)***

Komentar

News Feed