KH. A. Sirodjul Munir : Tak Pernah Direhabilitasi, Sensen Masih Leluasa Sebarkan Ajaran Sesatnya

TARKI, (KAPOL).- Munculnya kasus penistaan agama serta makar yang dilakukan pengikut Sensen Komara di wilayah Kecamatan Caringin, mendapatkan tanggapan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Garut, KH A Sirodjul Munir. Ia menilai kasus seperti ini akan terus terulang selama Sensen bisa berkeliaran dengan bebas.

Menurut Munir, sepengetahuannya hingga saat ini Sensen belum pernah direhabilitasi di rumah sakit jiwa manapun.

Padahal berdasarkan putusan pengadilan pada persidangan kasus yang sama beberapa tahun lalu, Sensen dinyatakan mengalami gangguan kejiwaan sehingga tak bisa dihukum.

“Majelis hakinm saat itu memerintahkan agar Sensen direg=habilitasi di rumah sakit jiwa akan tetapi hal itu tak pernah dilakukan karena Pemkab Garut tak mengeluarkan anggaran,” ujar Munir, Rabu (19/6/2019).

Karena tak direhabilitasi tutur Munir, pascaputusan Pengadilan Negeri Garut hingga saat ini Sensen bisa leluasa untuk terus menyebarkan ajaran sesatnya.

Tak heran kalau tiap tahun selalu muncul kasus penistaan agama sekaligus makar seperti yang dilakukan seorang warga Caringin bernama Hamdani baru-baru ini.

Menurutnya, kasus penistaan agaram yang terjadi di Garut selalu sama yakni mendeklarasaikan diri atyau membuat surat pernyataan yang menyebutkan jika mereka meyakini bahwa Sensen Komara merupakan rasul.

Bahkan saking yakinnya, mereka berani mengubah setiap kata Muhammad termasuk dalam kalimat syahadat dengan kata “Sensen Komara”.

Tak hanya itu, Munir juga menerangkan para pengikut Sensen selalu melaksanakan solat dengan menghadap ke arah timur. Tak cukup sampai disitu, mereka pun berulah dengan cara meminta izin kepada muspika setempat untuk melaksanakan solat sesuai keyakinannya tersebut.

“Kejadiannya selalu berulang dan modusnya selalu sama. Ajaran yang mereka dapatkan memang seperti itu sehingga kejadian ini akan terus berulang selama pemebri ajarannya masih bisa berkeliaran dengan bebas,” katanya.

Munir menilai, untuk mencegah agar kejadian serupa selalu terulang, Pemkab Garut dan Kejaksaan Negeri Garut harus segera mengeksekusi Sensen Komara sesuai keptusan Pengadilan Negeri Garut.

Dengan demikian Sensen tidak akan bisa menyebarkan ajarannya lagi dengan leluasa seperti yang terjadi selama ini.

Munir juga mempertanyakan hasil kondisi kejiwaan Sensen setelah dilakukan rehabilitasi yang menurutnya sampai sekarang tak pernah ada.

Ia pun menyesalkan sikap Pemkab Garut yang tak mau mengeluarkan anggaran untuk membiayai rehabilitasi Sensen.

Disampaikannya, kasus Sensen Komara ini bukan kasus baru, termasuk Hamdani yang juga telah beberapa kali berulah dan berurusan dengan aparat kepolisian.

Jika Sensen dibiarkan tanpa ada tindakan hukum yang jelas, kemunculan pengikut Sensen yang lainnya pasti akan terjadi.

“Selama penanganannya tidak jelas, dapat dipastikan pengikut Sensen terus akan ada bahkan akan semakin banyak,” ungkap Munir.

Lebih jauh Munir menandaskan, sejak jauh-jauh hari MUI Garut sudah mengeluarkan fatwa bahwa ajaran Sensen Komara sesat dan menyesatkan serta di dalamnya terdapat unsur makar.

Dengan alasan tersebut, MUI menyatakan bahwa ajaran Sensen harus diberantas.(Aep Hendy S)***

Diskusikan di Facebook
Baca juga ...