Komisi 4 Kesal Pemkab Tasik Tidak Memiliki Konsep Pengembangan Pariwisata

SINGAPARNA, (KAPOL).-Ironi, disaat daerah lain sedang bergairah dalam mengembangkan sektor pariwisata, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya justru sebaliknya karena tak memiliki keinginan dan konsep di bidang pariwisata.

Diduga Pemkab Tasikmalaya tak melihat bahwa pariwisata sebagai sebuah industri yang mampu menjadi unggulan dan tulang punggung ekonomi dimasa mendatang.

Hal tersebut dikatakan Ketua Komisi 4 DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Ami Fahmi kepada “KAPOL” Kamis (5/7/2018).

Menurutnya, sayang sekali Pemkab Tasikmalaya tidak melihat pariwisata sebagai sebuah industri sebagaimana yang diharapkan. Padahal potensi deatinasi pariwisata di Kabupaten Tasikmalaya cukup tinggi, bahkan tak kalah menarik dengan daerah lain. Namun perhatian pemerintah terhadap sektor pariwisata masih sangat minim.

Buktinya, dari tahun ke tahun kondisi pariwisata di Kabupaten Tasikmalaya jalan di tempat. Pemerintah tidak memiliki keinginan sehingga tak punya konsep dalam mengembangkan pariwisata. Jangankan konsep, perhatian dalam menyusun Raperda tentang Pariwisata saja tidak ada.

“Jangankan konsep, sekedar mengalokasikan anggaran untuk menyusun Raperda tentang Pariwisata saja tidak ada keinginan. Sungguh minim perhatian pemerintah terhadap sektor pariwisata,” kata Ami.

Dikatakan Ami, andai saja pariwisata mampu dikembangkan, bukan hal yang tak mungkin bisa menjadi sumber PAD yang memupuni di Kabupaten Tasikmalaya.Diakui atau tidak, sangat banyak potensi deatinasi wisata di Kabupaten Tasikmalaya. Sayangnya, potensi-potenai itu masih minim perhatian atau sama sekali tidak disentuh dan dikembangkan menjadi sebuah industri.

Selama ini pemerintah hanya membelanjakan anggaran yang sudah ada, sama sekali tidak ada kebijakan yang terfokus pada sektor pariwisata. Alasan pemerintah sangat klasik yakni tidak tersedianya anggaran. Padahal, jika kebijakan pemerintah yakni perhatian terhadap sektor pariwisata ada maka anggaran akan mengikuti.

“Ironi sekali, disaat banyak daerah yang berkeinginan mengembangkan pariwisatanya, namun Pemkab Tasikmalaya keliru dalam menterjemaahkan bagaimana mengembangkam pariwisata sebagai sebuah industri,” ucapnya.

Dikatakan politisi PKB tersebut, sebagai industri pariwisata tentunya memiliki parameter keberhasilan dan memiliki cara terbaik yang diterapkan di dalam menjalankannya. Jika Kabupaten Tasikmalaya memiliki produk unggulan dalam pariwisata, tentunya harus jelas juga siapa target pasar yang disasar.

Karena parameter keberhasilan di dalam pengelolaan pariwisata adalah jumlah kunjungan, tingkat kepuasan kunjungan dan tentu saja keberlangsungan destinasi. Jangan sampai mengaku telah berhasil, namun tidak tahu berapa jumlah pengunjung yang datang, atau target jumlah pengunjung yang menjadi tanggung jawab.

“Terkadang pemerintah selalu mengaku puas karena berhasil meraup PAD dari pariwisata, namun tidak tahu jumlah pengunjung dan tingkat kepuasannya,” ungkapnya. (Ema Rohima)***