Kondisi Rumah Dedi Memprihatinkan, Berharap Bantuan Pemerintah

BANJAR, (KAPOL).- Memiliki rumah yang layak huni merupakan impian semua warga tidak terkecuali bagi Dedi Suryadi dan Nonoh, warga RT/RW.03/10, Dusun Tembungkerta, Desa Sukamukti Kecamatan Pataruman, kota Banjar.

Pasalnya rumah berukuran kurang lebih 5X5 meter yang dihuni Dedi dan keluarganya itu, kondisinya sangat memprihatinkan.

Hanya beralaskan karpet serta dinding dari bilik yang sudah rusak. Selain itu, kondisi kamar mandi milik Dedi-pun hanya menggunakan kain bekas spanduk untuk penghalang.

Nonoh mengaku sudah menghuni rumah itu sejak tahun 1999 lalu. Selain dia dan suaminya, Nonoh mengaku tinggal bersama anaknya Yani yang saat ini sudah bekerja di pabrik pengolahan kayu di Banjar.

“Disini saya sama suami dan anak sejak tahun 1999,” katanya, Jumat (05/10/2018).

Menurutnya, suaminya itu hanya bekerja sebagai pedagang asongan di Terminal Bus Banjar yang memiliki penghasilan tidak jelas.

Menurutnya dalam sehari hanya mendapatkan uang sebesar Rp 20.000 bahkan pernah tidak membawa uang sama sekali karena barang dagangannya tidak laku.

“Suami saya hanya pedagang asongan di terminal,” ucapnya.

Nonoh mengaku pernah mendapat bantuan dari Pemerintah pada tahun 2008 lalu untuk perbaikan rumah.

Bantuan yang diberikan pemerintah saat itu menurutnya berbentuk material bangunan.

“Ya, saya juga tidak menghilangkan dulu pernah dapat bantuan tahun 2008,” terangnya.

Nonoh berharap pemerintah kota Banjar bisa memberikan bantuan untuk perbaikan rumah.

Pasalnya dia sangat khawatir ketika ada hujan turun dan angin besar karena kondisi rumahnya sudah tidak layak dihuni.

“Untuk kebutuhan sehari-hari juga tidak cukup, apalagi untuk memperbaiki rumah,” paparnya.

Pjs Kepala Desa Sukamukti Dede Harisman mengatakan, untuk warga atas nama Dedi Suryadi itu usulan sudah masuk.

Akan tetapi apakah akan masuk dalam skala prioritas atau tidaknya itu harus dilihat dari seberapa besar nanti anggaran yang akan digunakan untuk program rumah tidak layak huni (Rutilahu).

Jika tidak terakomodir anggaran di desa, nanti bisa dimasukan ke instansi lain.

“Usulannya sudah masuk nanti dilihat bisa masuk skala prioritas atau tidak,” jelasnya. (Agus Berrie)***

Komentari