Korban Tsunami Banten Tercatat 281 Orang

PANDEGLANG, (KAPOL).- Evakuasi pascabencana tsunami selat sunda yang memporak-porandakan kawasan Tanjung Lesung terus dilakukan para relawan dan petugas Badan SAR Nasional (Basarnas). Hari kedua evakuasi, sembilan jenazah ditemukan petugas dari hasil penyisiran di beberapa lokasi pantai, Senin (24/12/2018).

Sembilan jenazah yang ditemukan itu sudah dimasukkan dalam kantung-kantung jenazah yang disediakan relawan Basarnas. Selanjutnya, jenazah yang telah ditemukan kemudian langsung diangkut ke mobil jenazah untuk diidentifikasi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Berkah Pandeglang.

“Sudah ada 9 jenazah yang kami temukan di hari kedua evakuasi. Tersebar di beberapa pantai. Ada yang di dekat hotel, ada juga di kawasan pantai yang lain,” kata Indra, salah satu relawan Basarnas.

Pantauan Kabar Banten di lokasi, sejumlah relawan masih terus melakukan penyisiran di beberapa pantai di kawasan Tanjung Lesung. Proses pencarian korban terkendala oleh banyaknya sisa-sisa pohon besar yang tumbang akibat tersapu gelombang tsunami.

“Kemungkinan korban yang tertimpa pohon masih ada. Sebagian kami temukan nyangkut di bibir pantai,” ujarnya.

Sementara itu, sesui dengan data yang ada di Badan Nasional Penanggulangan Bencana tercatat 281 orang meninggal dunia, 1.016 orang luka-luka, 57 orang hilang dan 11.687 orang mengungsi.

Untuk kerusakan fisik akibat tsunami, meliputi 611 unit rumah rusak, 69 unit hotel-vila rusak, 60 warung-toko rusak, dan 420 perahu-kapal rusak.

Korban dan kerusakan yang diakibatkan oleh tsunami ini terjadi di 5 kabupaten terdampak, yaitu di Pandeglang dan Serang, Banten, serta di Lampung Selatan, Tanggamus dan Pesawaran, Lampung.

Untuk jumlah korban dan total kerusakan, daerah pesisir di Kabupaten Pandeglang adalah daerah yang paling parah dibandingkan daerah lain.

Terdapat 10 kecamatan di Pandeglang yang terdampak terjangan tsunami ini. Kerusakan banyak dialami di daerah pesisir di di sepanjang pantai dari Pantai Carita, Pantai Panimbang, Pantai Teluk Lada, Sumur, dan Tanjung Lesung.

Tercatat 207 korban meninggal dunia, 755 orang luka-luka, dan 7 orang hilang di Kabupaten Pandeglang. Selain itu terdapat 11.453 orang yang menungungsi.


Tanjung Lesung – Sumur Terisolir

Gelombang Tsunami yang menerjang Selat Sunda membuat kawasan pariwisata di Kabupaten Pandeglang menjadi porak-poranda. Bahkan, jalur penghubung di Jalan Tanjung Lesung – Sumur, saat ini kondisinya masih terisolir akibat tertutup pohon besar yang terseret tingginya gelombang tsunami selat sunda.

Jalur alternatif dari Tanjung Lesung menuju kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, masih dipenuhi sisa-sisa pepohonan besar yang terseret arus. Sejumlah petugas dan relawan beserta alat lengkap sudah berdatangan untuk membuka akses jalan yang dipenuhi pepohonan tersebut.

“Masih keisolir, sekarang kita lagi bantu petugas supaya bisa membuka akses jalan. Soalnya belum bisa nyampe ke Sumur,” kata Lulu Jamaludin, salah seorang relawan yang ditemui wartawan di lapangan.

Menurut dia, akses jalan di jalur tersebut hanya baru menjangkau sebagian pemukiman warga yang terdampak tsunami. Sedangkan sisanya, terus diupayakan oleh petugas agar bisa mengevakuasi warga yang hingga kini masih bertahan di wilayah dataran tinggi.

“Warga masih banyak yang mengungsi di wilayah perbukitan. Jaraknya puluhan kilometer dari kediaman mereka. Sementara di sana, mereka tidak memiliki persediaan logistik yang cukup,” ujarnya.

Dari pantauan, sejumlah alat berat mulai beroperasi untuk membuka akses jalan yang terisolir oleh dampak tsunami. Petugas PLN, juga terlihat membantu memasang jaringan listrik yang sempat terputus akibat gelombang tsunami selat sunda.

“Listrik baru kita upayakan ke satu desa. Desa yang lain belum, apalagi yang mau ke arah Sumur. Soalnya, akses jalannya juga masih ketutup sama pohon,” kata Deni, salah satu petugas PLN. (Rifat Alhamidi/KB)***

Diskusikan di Facebook
Baca juga ...