Kota Tasikmalaya Dalam Bingkai Statistik

Oleh Kosih Kosasih

Rabu, 17 Oktober 2018 merupakan salah satu tanggal bersejarah bagi Kota Tasikmalaya. Tepat 17 tahun yang lalu Kota Tasikmalaya terbentuk setelah diresmikan oleh Mentri Dalam Negri tahun 2001 silam.

Walaupun menyandang status Kota termuda di Jawa Barat, Kota Tasikmalaya terus bersolek diberbagai bidang mewujudkan mimpi menjadi salah satu daerah termaju setidaknya di wilayah Priangan Timur.

Berbagai pencapaian telah diraih pada setiap tahunnya, seperti Infrastruktur yang lebih merata, tumbuhnya pusat perbelanjaan baik tradisional maupun modern, adanya Bandara, lahirnya Perguruan Tinggi Negeri, tumbuhnya destinasi wisata dan lain sebagainya.Hal ini mampu menjadikan Kota Tasikmalaya menjadi salah satu magnet ekonomi bagi daerah lain di Jawa Barat.

Pembangunan ekonomi yang berkelanjutan turut serta meningkatkan taraf hidup serta memeratakan distribusi pendapatan masyarakat Kota Tasikmalaya. Hal ini dapat dilihat dari laju pertumbuhan ekonomi (LPE) sebagai gambaran dari berbagai aktivitas ekonomi pada suatu periode tertentu.

Walaupun mengalami fluktuasi, setidaknya dalam kurun waktu 8 tahun terakhir LPE Kota Tasikmalaya masih cukup tinggi. Badan Pusat Ststistik (BPS) mencatat, pada tahun 2010 LPE Kota Tasikmalaya mencapai 5,73 persen, sedangkan pada tahun 2017 LPE Kota Tasikmalaya mencapai 6,07 persen. Angka ini mengalami perlambatan bila dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi masih jauh diatas LPE Jawa Barat dan Nasional.

Bila ditelisik lebih dalam, selama kurun waktu 5 tahun terakhir struktur ekonomi Kota Tasikmalaya didominasi oleh 5 kategori lapangan usaha. Hal ini terlihat dari besarnya andil lapangan usaha tersebut terhadap nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2017.

Kontribusi 5 lapangan usaha tersebut diantaranya, Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor (22,65 persen), Konstruksi (15,90 persen), Industri Pengolahan (13,78 persen), Jasa Keuangan dan Asuransi (10,95 persen) serta Transportasi dan Pergudangan (9,63 persen).

Selain itu, pendapatan perkapita penduduk Kota Tasikmalaya pun terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2010, pendapatan perkapita penduduk Kota Tasikmalaya hanya mencapai 14,6 juta per tahun. Sedangkan tahun 2017 pendapatan perkapitanya telah mencapai 27,7 juta per tahun, naik rata – rata 1,86 juta atau 7,35 persen per tahun.

Selain pesatnya pembangunan ekonomi, sumber daya manusia (SDM) Kota Tasikmalaya pun tidak kalah maju dengan Kota/Kabupaten lain. BPS mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Tasikmalaya selama 8 tahun terakhir terus mengalami kemajuan.

Bila IPM Kota Tasikmalaya pada tahun 2010 sebesar 66,58 (kategori sedang), maka pada tahun 2017 IPM Kota Tasikmalaya sudah berada pada kategori tinggi yaitu mencapai 71,51. Capaian ini menempatkan kualitas SDM penduduk Kota Tasikmalaya menjadi yang paling tinggi di wilayah Priangan Timur.

Selain itu, selama kurun waktu 2010 – 2017 Kota Tasikmalaya telah berhasil meningkatkan Umur Harapan Hidup saat lahir (UHH) penduduknya sebesar 0,75 tahun. Jika pada tahun 2010 UHH saat lahir penduduk Kota Tasikmalaya sebesar 70,73 tahun, maka pada tahun 2017 angkanya sudah mencapai 71,48 tahun. Artinya, bayi yang baru lahir pada tahun 2017 memiliki peluang hidup hingga usia 71,48 tahun.

Lebih lanjut dari sisi kualitas pendidikan, pada tahun 2010 Harapan Lama Sekolah (HLS) penduduk Kota Tasikmalaya masih sebesar 11,85 tahun (belum tamat SLTA), sedangkan pada tahun 2017 telah mencapai 13,41 tahun.

Artinya penduduk Kota Tasikmalaya yang berusia 7 tahun memiliki peluang untuk bisa mengenyam pendidikan hingga jenjang Diploma 2 (D2).
Sementara itu, Rata – rata Lama Sekolah (RLS) penduduk usia 25 tahun keatas di Kota Tasikmalaya meningkat 0,8 tahun selama periode 2010 – 2017.

Jika pada tahun 2010 RLS penduduk usia 25 tahun keatas sebesar 8,23 tahun, maka pada tahun 2017 angkanya telah mencapai 9,03 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk usia 25 tahun keatas rata – rata sudah menamatkan pendidikannya hingga SMP.

Pekerjaan Rumah
Kota Tasikmalaya masih memiliki pekerjaan rumah yang cukup berat, salah satunya adalah pengentasan kemiskinan. Walaupun jumlah penduduk miskinnya lebih sedikit dibandingkan dengan Kabupaten lain, namun sampai saat ini, tingkat kemiskinan Kota Tasikmalaya masih menempati urutan pertama atau paling tinggi di Jawa Barat.

Berbagai program dengan kucuran dana yang tidak sedikit sudah dilakukan oleh Pemerintah pada setiap tahunnya, sehingga BPS mencatat adanya penurunan kemiskinan yang cukup signifikan pada periode 2010 – 2017.

Selama periode tersebut, tingkat kemiskinan berhasil diturunkan sebesar 5,91 persen. Bila pada tahun 2010 jumlah penduduk miskin di Kota Tasikmalaya sebesar 131,5 ribu jiwa atau 20,71 persen, maka pada tahun 2017 angkanya berkurang menjadi 97,85 ribu jiwa atau 14,80 persen.

Tingkat kemiskinan yang tinggi ini tidak terlepas dari kemampuan penduduknya dalam memenuhi kebutuhan dasar sehari – hari, dimana banyak penduduk Kota Tasikmalaya yang pengeluarannya masih dibawah Garis Kemiskinan (GK). Besarnya batas Garis Kemiskinan dipengaruhi oleh tingkat pengeluaran dari setiap penduduk di Kota Tasikmalaya.

Walaupun statusnya kota, tetapi fungsionalnya masih sekitar 30 persen dari 10 Kecamatan yang memiliki karakteristik perkotaan. Namun demikian, hasil survei sosial ekonomi nasional (Susenas) menunjukkan, lebih dari 30 persen penduduk Kota Tasikmalaya pengeluaran per kapita per bulannya berkisar antara Rp 300.000 – Rp 499.000. sedangkan batas GK pada tahun 2017 sebesar Rp 416.837.

Hal ini menjadi tugas Pemerintah saat ini untuk terus berupaya melakukan pembangunan diberbagai sektor secara merata di seluruh wilayah Kota Tasikmalaya. Bila awalnya pusat perekonomian masih terkonsentrasi pada beberapa kecamatan saja, maka kedepan harus tersebar menyentuh wilayah lainnya.

Selain dapat memperluas lapangan pekerjaan, hal ini dapat meningkatkan taraf hidup serta memeratakan distribusi pendapatan masyarakat.
Menghadapi era bonus demografi yang puncaknya diperkirakan terjadi pada tahun 2030 nanti, tentu pencapaian yang sudah diraih saat ini menjadi modal yang sangat penting untuk mempersiapkan kualitas SDM Kota Tasikmalaya agar lebih baik lagi kedepannya.

Dengan terus melakukan akselerasi pembangunan di berbagai sektor, bukan tidak mungkin Kota Tasikmalaya dapat mewujudkan mimpinya menjadi daerah termaju di Priangan Timur.****

Kosih Kosasih, S.Si, ( Statistisi pada BPS Kota Tasikmalaya)

Komentari