oleh

Kota Tasikmalaya Darurat Air Bersih 59 Kelurahan Alami Kekeringan

TASIKMALAYA, (KAPOL).- Kota Tasikmalaya setiap tahun selalu mengalami krisis air bersih yang cukup parah jika memasuki musim kemarau.

Kondisi kekeringan juga seperti tahun-tahun sebelumnya terjadi juga di tahun 2019 ini.

Dimana beberapa daerah seperti Kecamatan Tamansari, Kawalu dan Purbaratu sudah sangat darurat air bersih.

Bahkan hampir di setiap daerah di wilayah kecamatan yang masuk wilayah Kota Tasikmalaya mengalami krisis air. Hal ini bisa disebut darurat air bersih.

Bahkan harus antri mengais air bersih ke kampung tetangga pada tengah malam hanya untuk satu atau dua ember air bersih.

Krisis air juga dirasakan oleh warga Parakan Honje, Kelurahan Sukamaju Kaler, Kecamatan Indihiang. Kesulitan air ini dirasakan sejak 4 bulan terkahir.

Bahkan tahun tahun sebelumnya juga mulai merasakan sulitnya mendapatkannair bersih. Hal ini diakibatkan maraknya alih fungsi lahan resapan air menjadi perumahan umum.

“Sampai harus membeli air bersih galonan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, warga juga mengais air hingga ke kampung tetangga sampai pukul 12.00 tengah malam,” kata Ketua RW 05 Parakan Honje, Nana Santana yang di amini oleh Wakil Ketua Karang Taruna Dian Cahyana, usai menerima bantuan air bersih dari Polres Tasikmalaya Kota, Senin (28/10/2019).

Dikatakannya, dampak dari alih fungsi dan kerusakan lingkungan ini air di wilayahnya sudah kering kerontang. Bahkan untuk sekadar berwudhu saja mereka sudah kesulitan.

Selama krisis ini masyarakat mengandalkan air yang dikirim dari BPBD Kota Tasikmalaya.

Namun demikian air tersebut tidak mencukupi untuk mengcover seluruh kebutuhan. Sisanya warga membeli air galonan.

Dilokasi yang sama, Kepala BPBD Kota Tasikmalaya, Ucu Anwar menyebutkan, musim kemarau saat ini sudah masuk darurat air bersih.

Bukan hanya di Kelurahan Suakamaju Kaler saja, namun hampir di semua wilayah Kota Tadikmalaya mengalami krisi air bersih.

Darurat kekeringan di Kota Tasikmalaya sudah masif. Sampai saat ini, sudah
59 kelurahan yang mengalami darurat air bersih.

Pihaknya sudah melakukan pendistribusian air bersih di 387 titik di Kota Tasikmalaya sejak juli sampai saat ini. Oenyaluran di semua titik itu sudah sebanyak 5.780 000 liter yang didistribusikan ke titik lokasi yang kekeringan.

Termasuk ke Kampung Parakan Honje ini sudah dua kali pendistribusian air bersih.

Di tahun 2018 penyaluran air bersih dari mulai memasuki musim kemarau sampai kembali musim penghujan hanya menghabiskan 2.116.000 liter.

Artinya tahun 2019 sudah 3 kali lipat peningkatan kebutuhan air “Krisis air tahun ini sudah masuk katagori darurat air bersih. Di Tamasari saja lebih dari 1 juta liter lebih,” katanya.

Disinggung penyebab krisis air bersih ini, kata Ucu, kekeringan ini merupakan dampak dari kerusakan lingkungan. Selain itu kesadaran masyarakat tentang menabung air sangat rendah.

Pembuatan biopori dilingkungan warga juga sangat kurang, warga tidak diedukasi pentingnya pembuatan biopori dilingkungan warga.

“Jika memasuki musim kemarau pasti langsung krisi air, sebab dimana bukit-bukit sebagai resapan air sudah habis,” katanya.

Dikatakannya, Penetapan darurat kekeringan ini bertujuan untuk bisa mengerahkan semua sumber daya yang ada.

Guna membantu masyarakat yang mengalami krisis air bersih akibat dampak kemarau panjang.

Personil Sat Lantas Polres Tasikmalaya Kota pun ikut terjun dalam penyaluran air bersih di Kawasan Parakan Honje. (KP-07)***

Komentar

News Feed