KPA, Jabar Darurat HIV/AIDS

BANJAR, (KAPOL).- Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Provinsi Jawa Barat menyatakan penderita HIV/AIDS dan prilaku menyimpang seksual yang tersebar di kab/kota wilayah Jabar selama ini, kondisinya sudah darurat.

“Kondisi darurat itu harus segera ditanggulanginya. Melalui, diterbitkannya UU Penanggulangan HIV/AIDS,” ujar Sekretaris KPA Provinsi Jabar, Iman Teja Rahmana, seusai rakor HIV/AIDS Tingkat Kota Banjar, di ruang Rapat II Setda Kota Banjar, Selasa (17/4/2018).

Pada kesempatan itu, Iman menjelaskan penderita HIV/AIDS dan prilaku menyimpang Seksual di Jabar, termasuk Laki Suka Laki (LSL) saat ini sudah mencapai 110.000 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 10 ribu diantaranya berstatus masih anak-anak.

Lebih lanjut dia menjelaskan, 95 persen Orang Hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) di Jabar berusia produktif dan sudah menikah. Penanggulangan HIV/AIDS mesti dimulai dari hulu dan berkelanjutan.

” Setelah dites HIV/AIDS dan diketahui positif, semestinya penderita HIV/AIDS itu diberi pendampingan khusus supaya penyakit yang belum ada obatnya tak terus menerus bertambah. Pendampingan atau pengawasannya, misal berbentuk apakah ODHA itu masih suka jajan atau tidak selama ini,” ucapnya.

Keberadaan OHDA, dikatakan dia, terakhir ini seringkali mengalami stigma negatif dan diperlakukan diskriminasi. Baik, dilakukan masyarakat awam maupun petugas medis.

” Harusnya ODHA itu didekati, dirangkul dan dibina. Untuk memutuskan mata rantainya, misal dari cabe-cabean, berlanjut ke Wanita Pekerja Seksual dan berakhir menjadi mamih-mahih, itu melalui pendekatan agama. Keberadaan ODHA di Banjar termasuk jumlah sedang diantara kab/kota di Jabar selama ini,” katanya.

Sekretaris KPA Banjar, H.Unen Astramanggala didampingi Bidang Program KPA Banjar, Boni Mastriolani, menyatakan, keberadaan penderita HIV/AIDS di Kota Banjar itu ibarat fenomena gunung es.

Jumlahnya terus mengalami peningkatan belakangan ini. Dari tahun 2016 sebanyak 98 ODHA, pada tahun 2018 ini sudah mencapai 287 ODHA.

“Berdasarkan sebuah survai, dari seorang ODHA yang tampak kepermukaan itu ada sekitar 10 ODHA yang tak terlihat. Kenyataan ini mirip fenomena gunung es saja ,”ujar Boni seraya menjelaskan, penderita termuda di Kota Banjar berusia 13 tahun dan tertua 75 tahun selama ini.

Asisten Sekretaris Daerah Bidang Sosial, Ekonomi, Pembangunan dan Administrasi Kota Banjar, H.Agus Eka Sumpana, seusai pembukaan rakor HIV/AIDS, menyatakan, pada tahun 2017 ODHA Kota Banjar bertambah 21 orang.

“Kota Banjar secara geografis ada dijalur strategis. Penambahan ODHA di Kota Banjar selama ini, dimungkinkan imbas ditutupnya lokalisasi Dolly dan Saritem. Selain itu, diduga keberadaan semua ODHA itu berawal dari prilaku seks menyimpang, seperti LSL itu. Untuk penanggulannya itu diperlukan melalui pendekatan agama dahulu,” kata H. Agus. (D.Iwan)***

Komentari