Kupas Biografi Jais Darga

TASIKMALAYA, (KAPOL).-Jais Darga di dunia Seni Rupa Indonesia dibincangkan di Ruang Asyik Jalan BKR Kota Tasikmalaya, Jumat (8/2/2019).

Dipandu oleh Mufid At-Thoriq, seluk beluk biografi perempuan yang lahir di Garut Jawa Barat tersebut terkupas selama kurang lebih dua jam. 

“Jais Darga di buku ini adalah teks, bukan tentang Jais Darga, tetapi pengalaman saya mengenal dia. Walau sebenarnya saya ini laki-laki, ha ha ha,” ujar Ahda Imran, penulis novel setebal 525 halaman tersebut berseloroh.

Ahda mengatakan posisi Jais Darga di dunia Seni Rupa Indonesia sangat penting. Selama ini belum ada art dealer Internasional di bisnis seni rupa dunia.

Orang pertama punya galeri permanen di Paris, yang bisa membawa karya lukisan Piccasso, Marqise dan lain-lain. Orang Indonesia yang bisa memamerkan permanen karya seni asal Indonesia di Paris.

“Paling penting, orang pertama Indonesia yang bisa membawa karya Basqiat, Pop Art International ke Bali. Fenomena menarik perkembangan seni rupa di kita, itu penting bagi ditulis biografinya. Apa saja yang sudah dilalu, apa penyebab dia seperti ini. Ketika bertemu seseorang selalu terpaku apa yang dimiliki, tapi apa saja yang dilalui sehingga dia seperti ini,” katanya.

Sastrawan Tasikmalaya, Bode Riswandi menggambar Jais Darga sebagai gadis tomboy menjadi percakapan dunia lelang lukisan Internasional. Dari spekulasinya membarter mobil dengan lukisan seorang Maestro Indonesia hingga ia hadir sebagai buyer lukisan Maestro Dunia.

“Dari kecakapan lugunya sebagai orang timur yang senantiasa dinilai kelas dua oleh bangsa barat, hingga mampu membuat para Art Dealer kelas dunia dibuatnya gigit jari karena biding fantastis yang ia tawarkan,” ujarnya.

Sebagai orang timur, kata dia, kita layak berterima kasih kepada Jais. Setidaknya ia telah mengangkat harga diri bangsa yang selalu dinilai kelas kedua. Dan karena alasan ini pulalah “setidaknya” mengangkat para pelukis dalam negeri mendapat tempat di mancanegara.

“Biografi ini salah satu yang layak untuk dibaca abad ini,” katanya. 

Jais Darga mengatakan, biografi tersebut sangat berkesan. Bahkan bisa mengenali diri sendiri setelah membaca buku tersebut. “Yang membuat saya shock juga, sebab membaca buku itu seolah bukan saya. Sebab, tidak disadari kesannya menjadi kenal diri saya,” katanya.

“Kesakitan jadi motivasi kita maju sukses. Jangan menyerah bersyukur, dalam arti, sebagai Jais Darga di buku itu apa adanya. Untuk kaum perempuan gak boleh menangisi diri, seperti di dunia satu-satunya orang menderita. Jangan pedulikan kita bagaimana menurut orang. Tak boleh ragu, sebesar segagah apapun raksasa jika jalan di tempat tak pernah buat keputusan akan ambruk,” ujarnya. (Inu Bukhari)***