Lima Perusahaan Asing Tawarkan Pengelolaan Sampah di Garut

 

TARKI, (KAP).-Pemkab Garut hingga saat ini masih terus mencari solusi terkait masalah pengelolaan sampah. Hingga saat ini, sudah ada lima perusahaan dari lima negara yang telah menawarkan diri untuk membantu mencarikan solusi dal pengelolaan sampah sehingga tak akan lagi jadi permasalahan pelik di Garut.

“Kita terus berupaya mencari solusi terkait pengelolaan sampah yang selama ini sudah menjadi permasalahan. Sudah ada lima perusahaan dari lima negara yang kita undang dan mereka telah
memaparkan solusi pengelolaannya, ” ujar Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman saat ditemui di kantornya, Senin (11/2/2019)

Dikatakan Helmi, lima perusahaan yang telah memaparkan sekaligus menawarkan solusi pengelolaan sampah itu berasal dari negara Amerika, Francis, Australi, Korea, dan Jepang. Mereka sama-sama telah mempunyai alat untuk pengelolaan sampah dan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya.

Diakui Helmi, hingga saat ini Pemkab Garut belum bisa memutuskan alat dari perusahaan mana yang akan dibeli untuk mengolah sampah di Garut. Pemkab masih mempertimbangkan kelamahan dan kelebihan yang dimiliki masing-masing alat agar tak sampai salah pilih nantinya.

“Namun secara umum, semua alat yang ditawarkan pada kita sangat baik dan bisa mengatasi masalah yang tengah kita hadapi selama ini yakni masalah penumpukan sampah. Hanya saja kita masih mencari yang lebih cocok dan tentunya terjangkau oleh kondisi keuangan kita,” katanya.

Helmi menyebutkan, upaya perburuan alat pengolan sampah mulai benar-benar diintensifkan sejak akhir tahun lalu. Selama kurun waktu tersebut, sudah ada lima perusahaan dari lima negara yang telah dijajagi dan diundang.

Helmi menilai, permasalahan sampah saat ini telah benar-benar serius dan harus segera mendapat penanganan. Keterbatasan di area TPS Pasir Bajing yang merupakan TPS satu-satunya yang digunakan untuk membuang sampah di Garut telah menyebabkan tumpukan sampah meluber sehingga menimbulkan polusi yang mengganggu kenyamanan warga.

Hal ini menurut Helmi tak bisa terus dibiarkan dan harus segera dicarikan solusinya. Sementara keberadaan TPS Legoknangka yang berlokasi di kawasan Nagreg, Kabupaten Bandung, hingga saat ini belum bisa dijadikan alternatif solusi karena ada pengunduran penggunaannya.

Diungkapkan Helmi, produksi sampah di Garut setiap harinya saat ini telah mencapai 200 ton. Sementara, pengelolaan sampah yang ada saat ini masih bersifat konvensional dengan ditumpuk dan dibakar di TPA Pasir Bajing.

Helmipun menegaskan pihaknya menargetkan tahun depan Garut sudah bisa memiliki peralatan untuk pengelolaan sampah melalui
teknologi dari salah satu perusahaan yang telah menawarkan kerjasama. Prinsipnya, Pemkab Garut akan mencari teknologi pengelolaan sampah yang ramah lingkungan, ekonomis dan terjangkau oleh APBD Garut serta memungkinkan untuk diterapkan di Garut.

Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Garut, Asep Suparman membeberkan selain dengan perusahaan dari lima negara, ada juga perguruan tinggi di Indonesia yang telah menawarkan konsep pengolahan sampah berikut dengan pola pembiayaannya.

“Kami juga telah menerima pemawaran dari Unpad (Universitas Padjadjaran). Mereka juga telah menawarkan konsepnya dan pembiayaannya dan itu juga masih kita pertimbangkan,” ucap Asep.

Asep menyampaikan harapannya agar Pemkan Garut secepatnya bisa menetapkan pola penanganan sampah yang akan digunakan. Apalagi saat ini kapasitas TPA yang ada sudah sangat terbatas daya tampungnya.(Aep Hendy S)***