Mendapat Tindak Kekerasan, 9 Santri Mengadu ke KPAID

CISAYONG, (KAPOL).-Tiga orang dari sembilan orang santri di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya mendarangi kantor KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (20’4/2019).

Dengan diantar orang tuanya masing-masing, mereka mengaku telah mendapatkan perlakuan kekerasan dari oknum guru ngajinya gara-gara tidak ikut mengaji.

Tiga orang santriwati yang mendatangi KPAID Kabupaten Tasikmalaya tersebut diantaranya KR (18), NKA (18) dan NF (17). Ketiganya mengaku akibat perlakuan kekerasan oleh guru ngajinya itu, mengalami luka lebam dibagian kakinya. Bahkan salah satunya mengalami luka cukup serius hingga berjalan pincang.

“Hari ini kami kedatangan tiga orang santriwati dengan diantar orang tuanya masing-masing. Kedatangannga untuk mengadukan perlakuan kekerasan oleh oknum guru ngajinya. Sebelumnya, ada pengaduan yang sama juga jadi jumlahnya ada empat,” kata Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto kepada “KAPOL” Sabtu (20/4/2019).

Menurutnya, para santriwati itu bukan hanya berasal dari Tasikmalaya, tapi ada yang berasal dari Cianjur, Karawang dan Bandung. Kesemuanya menurut informasi ada sebanyak 9 orang santriwati yang mendapatkan perlakuan kekerasan oleh oknum guru ngajinya berinisial Y

Alasannya, para santriwati itu tidak mengikuti ngaji. Di depan teman-temannya, para santriwan itu disuruh menghadap tembok dan dipukul dengan menggunakan bambu berukuran gagang sapu. Jumlah pukulan sesuai dengan berapa kali para santriwati itu tidak mengikuti ngaji. Jumlah pukulan dengan menggunakan bambu itu ada yang tiga kali pukulan, namun ada juga yang hingga puluhan kali.

“Hukuman pukulan itu berlebihan, sehingga berakibat bagian kaki para korban luka memar. Salah satunya cukup serius, karena mengakibatkan tidak bisa jalan dan BAB. Sehingga para santriwati tidak bisa beraktivitas,” ucapnya.

Dikatakan Ato, dalam laporannya para santri menceritakan kronologis prilaku kekerasan itu. Dimana kekerasan itu merupakan hukuman bagi santri dan santriwati yang tidak mengikuti mengaji. Hukumannya berupa pukulan dengan dengan menggunakan bambu ke bagian betis dan paha.

Jumlah pukulannya sesuai dengan seberapa banyak santri tidak mengikuti mengaji. Dalam setiap satu kali tidak mengikuti, dihukum sebanyak tiga kali pukulan. Namun sayangnya, hukuman itu terlalu berlebihan karena sampai menimbulkan luka serius dan menciderai fisik.

“Hukuman yang diberikan Y berupa pukulan kebetis dan paha bagian belakang, menggunakan bambu dengan diameter sekitar 1,5 sentimeter atau ukuran gagang sapu,” tuturnya.

Dijelaskan Ato, dari pengaduan para santriwati ini, pihaknya akan mendalami dulu dengan mengumpulkan data. Adapun apakah kasusnya akan dimediasi atau berlanjut ke ranah hukum, tentunya sesuai hasil dan perkembangan ke depan.

Karena bisa saja nantinya hanya akan dilakukan mediasi dengan catatan tidak ada lagi hukuman yang berlebihan. Memberikan hukuman keras seperti kekerasan yang menyakiti fisik dan psikis tentu tidak boleh dilakukan. Hukuman keras yang diberikan tidak akan memberikan dampak positif baik bagi guru maupun santri dan santriwatinya itu sendiri.

“Memukul bukan hukuman, namun sudah masuk ke dalam tindak kekerasan. Bahkan, akan menyakiti perasaan dan mempermalukan,” ungkapnya. (Ema Rohima)***

Diskusikan di Facebook