Mengembalikan Dunia Anak dengan Bermain

PESTA olahraga terbesar di benua Asia akan digelar di negeri ini pada Agustus mendatang. Perhelatan ini pulalah yang kemudian menginspirasi menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) dalam memberikan tema Hari Anak Nasional tahun 2018.

Sejalan dengan Asian Games menteri PPA mengharapkan agar anak Indonesia juga dapat berolahraga, beraktivitas di luar ruangan, belajar sportivitas sehingga dapat terhindar dari pengaruh lingkungan yang negatif.

Harapan tersebut diramu dalam sebuah tema apik yaitu anak Indonesia anak GENIUS. GENIUS sendiri merupakan akronim dari gesit, empati, berani, unggul, dan sehat.

Harapan menteri PPA yang terkahir ini sangat menarik terutama poin tentang anak yang beraktivitas di luar ruangan serta sportivitas yang ingin ditanamkan dalam diri anak-anak.

Dua fenomena terakhir ini merupakan pekerjaan rumah bagi berbagai pihak terutama para orang tua, pendidik, dan pemerhati dunia anak. Betapa anak-anak sekarang ini sudah sangat dekat dengan teknologi telepon pintar yang lebih dikenal dengan sebutan gadget.

Perangkat yang mengagumkan ini memberikan anak-anak fasilitas menyenangkan melalui aplikasi permainan virtual dan petualangan asyik di dunia maya. Penggunaan gadget di kalangan anak-anak mendorong American Association of Pediatrics melakukan penelitian terkait hal tersebut.

Dikutip dari laman id.ParentsIndonesia.com di tahun 2013 saja menurut penelitian asosiasi ini, jumlah anak-anak yang menggunakan gadget meningkat hampir dua kali lipat (dari 38% menjadi 72%).

Anak-anak yang sering menggunakan gadget, seringkali lupa dengan lingkungan sekitarnya. Mereka lebih memilih bermain menggunakan gadget daripada bermain bersama dengan teman-teman di lingkungan sekitar tempat tinggalnya.

Sehingga interaksi sosial antara anak dengan masyarakat, lingkungan sekitar berkurang, bahkan semakin luntur (Ismanto dan Onibala, 2015).

Hal ini memberi dampak perkembangan anak-anak yang semakin individualis dan kurang peka terhadap lingkungan sekitarnya. Hal ini pun sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Jenderal Soedirman yang menyatakan terjadi perubahan sosial bagi anak-anak yang menggunakan telepon genggam dalam hal cara berkomunikasi sosial, pola pikir, dan penggunaan waktu bermain dengan teman seusianya yang menjadi lebih terbatas.

Begitu pula hasil penelitian yang dilakukan oleh PG PAUD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya bahwa apabila tidak ada penggunaan gadget pada anak usia 5-6 tahun maka interaksi sosial anak akan tetap berkembang baik.

Begitu pula sebaliknya, bagi anak-anak yang telah akrab dengan penggunaan gadget hal tersebut menimbulkan dampak buruk pada interaksi sosial mereka.

Menyikapi beberapa pernyataan dan fenomena yang dipaparkan di atas, masyarakat di semua lapisan dan di berbagai ranah kehidupan harus memiliki kepedulian dan aksi untuk mengatasinya.

Dan itu bisa dilakukan dengan cara mengembalikan anak-anak ke dalam dunia mereka sesuai dengan tugas perkembangan mereka. Menurut Papalia dalam bukunya yang berjudul Human Development, dunia anak-anak adalah dunia bermain.

Dengan bermain anak-anak menggunakan otot tubuhnya, menstimulasi indera tubuh, mengeksplorasi dunia sekitar, menemukan dunia dan diri mereka sendiri. Menurut Kak Seto cara terbaik mendidik anak juga adalah dengan bermain.

Ada lima ciri menurut beliau mendidik anak dengan bermain. Pertama, bermain didorong oleh motivasi diri sendiri. Kedua, bermain dipilih sesuai dengan keinginan anak. Ketiga, bermain adalah kegiatan yang menyenangkan.

Selanjutnya bermain tidak selalu harus menggambarkan hal yang sebenarnya, dan yang terakhir bermain senantiasa melibatkan peran serta aktif anak, secara fisik, psikologis, maupun keduanya sekaligus.

Memang sangat tepat sekali ketika Menteri PPA mengharapkan anak Indonesia di peringatan HAN tahun ini merupakan anak yang beraktivitas di luar ruangan dan belajar arti sportivitas. Dalam permainan, dua hal ini akan terwujud karena bermain seperti yang telah dikemukakan di atas mampu memberikan harapan tersebut bagi anak-anak.

Dalam bermain mereka harus memiliki tempat dan lahan yang lebih luas daripada di dalam rumah. Anak-anak yang bergerak aktif membutuhkan lahan untuk bergerak bebas secara dinamis. Secara fisik, raga mereka yang bergerak akan membantu pertumbuhan dan perkembangan tubuh mereka. Hal ini sangat menunjang, membantu, dan meningkatkan tingkat kesehatan mereka.

Secara psikologis, dalam bermain, jiwa, mental, dan rasa mereka akan terasah karena dalam bermain menyediakan interaksi sosial yang lebih kompleks. Sportivitas akan diasah juga dari arena bermain, karena anak dipaksa harus mampu bertahan di saat keadaan tak sesuai harapan. Sikap adil dan jujur terhadap lawan serta mengakui keunggulan lawan dan kelemahan serta kekurangan diri sendiri merupakan ciri sportivitas.

Mengembalikan anak bermain di luar ruangan merupakan salah satu upaya mewujudkan anak Indonesia yang gesit, empati, berani, unggul, dan sehat. Kelima aspek yang disebutkan dalam tema tersebut terangkum lengkap sudah dalam aktivitas bermain.

Mengajak dan mendampingi anak-anak bermain di luar ruangan berarti telah membebaskan anak-anak dari kungkungan negatif yang ditimbulkan oleh gadget, memenuhi kebutuhan tugas perkembangan mereka, serta mewujudkan perlindungan anak secara sosial, fisik, dan psikis.

Sudah saatnya para orang tua menyediakan waktu bermain bersama dengan anak-anak serta menganjurkan mereka bermain di luar rumah dengan teman-teman di sekitar rumah. Bagi para pendidik pun jangan lupa untuk menyisipkan beberapa permainan di sela-sela proses belajar mengajar.

Dan untuk pemerintah agar berupaya untuk memberikan fasilitas bermain yang layak dan menarik bagi anak-anak di beberapa fasilitas sosial dan umum yang dibangun. Semua itu harus diupayakan agar anak Indonesia yang menjadi harapan bangsa bisa tumbuh sehat secara maksimal dan optimal, jiwa dan raga***

(Ade Kartini, Staf Pengajar di MA Al-Choeriyyah Cibeas Cintaraja Singaparna dan Pegiat Nasyiatul Aisyiyah Jawa Barat)

Komentari