Nadran dan Botram Jelang Puasa Ramadan

GARUT, (KAPOL).- Menjelang puasa di setiap tahun masyarakat disibukan dengan kegiatan rutinitas berupa nadran atau nyekar ke makam sanak keluarga yang telah meninggal dunia, dan botram yakni makan bersama baik dengan keluarga, tetangga maupun handaitaulan.

Berdasarkan pantauan “KAPOL”, menjelang tibanya bulan Ramadhan 1439 Hijriyah tahun 2018 ini atau sejak Jumat (11/5) hingga Rabu (16/5) kemarin, di sejumlah pemakaman umum banyak masyarakat yang melakukan nadran.

Mereka datang dari berbagai daerah hanya untuk nadran menjelang puasa.

Tak hanya itu, banyak pula pedagang bunga musiman di depan makam atau di tempat tempat keramaian lainnya.

“Biasanya saya dan keluarga kalau sudah nadran kesini langsung botram. Ya tradisi menjelang munggahan ini biasa saya lakukan baik dengan keluarga maupun tetangga, bisa juga dengan teman-teman lama,” kata Hj. Eti Martini (58) warga asli Garut yang kini tinggal di Bekasi seusai nadran di Pemakaman umum Panyirepan, Jalan Bratayudha, Ciwalen, Garut Kota, Selasa (15/5/2018).

Sementara itu, disejumlah lokasi wisata yang ada di wilayah Garut dipadati pengunjung yang sengaja menghabiskan waktunya menjelang puasa.

Mereka datang dengan menggunakan berbagai kendaraan, baik sepeda motor maupun roda empat.

Mereka pun datang baik perorangan maupun berkelompok atau rombongan.

Tercatat selain warga Garut berwisata keluar, tapi banyak pula dari luar daerah yang datang dan berwisata ke sejumlah lokasi wisata yang ada di Garut.

Tak sedikit pula mereka yang datang dan pergi menggunakan kendaraan Bis atau Mobil Bak terbuka.

“Bagi saya dan keluarga tradisi botram tak akan dihilangkan. Botram itu makan sama-sama tak harus dengan daging, tapi cukup dengan asin, sambal, lalap pun enak dan lezat disantapnya.” kata Hj. Anti Novianti warga asal Kampung Cihaur, Kec. Karangpawitan saat ditemui di Jembatan Kamojang, Kec. Ibun, Kab. Bandung, Rabu (16/5).

Dia bersama suami, anak, dan saudara lainnya sengaja datang ke Jembatan perbatasan Kab. Garut-Kab. Bandung itu hanya untuk refresing menjelang puasa sambil botram.

“Main kesini murah meriah. Tidak jauh tetapi enak dipandang, udaranya sejuk, tidak bayar lagi. Berwisata ke Kamojang ini bisa banyak dikunjungi lokasi lainnya, ada Eko Park, Kawah Kereta Api, dan lainnya,” katanya.

Nadran dan Botram

Sebagaimana diketahui dari berbagai sumber, dalam kamus bahasa Sunda yang disusun R.A. Danadibrata, nadran berasal dari kata kerja tadran, yaitu ‘kecap pagawean jarah ka kuburan karuhun bari ngawurkeun kembang di antara tetegerna, nadran sok disebut oge ngembang atawa nyekar’ atau ziarah ke makam leluhur sambil menaburkan bunga di atasnya.

Nadran juga sering disebut dengan menabur bunga.

Atau orang sunda biasanya hanya membersihkan tempat pemakaman menjelang puasa, dan melakukan tabur bunga di waktu Idul Fitri.

Bagi masyarakat sunda, kebiasaan nadran merupakan kebiasaan yang baru.

Pasalnya, masyarakat Sunda dahulu tidak mengenal pemujaan terhadap makam.

Sebaliknya, masyarakat Jawa menjaga tradisi ini, sekalipun mereka berempat tinggal jauh dari tempat mereka berasal.

Misalnya, untuk menggantikan ritual nadran, orang Jawa di Bandung tempo dulu, membuang air kembang tujuh warna di tengah perempatan jalan.

Prosesi ini dilakukan sebagai pengganti ziarah ke makam leluhur mereka yang jauh di daerah asal mereka.

Kebudayaan masyarakat Sunda jaman dahulu adalah kebudayaan ladang (yang dalam bahasa Sunda disebut huma) bukan sawah seperti kebanyakan yang terjadi sekarang. Mereka dengan kerja keras menggantungkan hidup dengan menanam padi di ladang-ladang secara berpindah.

Hal ini terjadi sebelum abad 18, sebelum masyarakat sunda mengenal sawah.

Dalam uraian selanjutnya, salah satu ciri masyarakat ladang adalah ketiadaan pemujaan terhadap leluhur dalam bentuk memelihara permakaman.

Misalnya di Baduy, tanda makam hanya dua pohon hanjuang yang ditanam untuk menandai makam. Setelah 40 hari, tanah makam tersebut akan dilupakan dan dianggap sebagai tanah biasa.

Bagi masyarakat Sunda, bahwa memuliakan leluhur berarti melaksanan amanat-amanat mereka.

Sementara itu, masyarakat sunda mempunyai tradisi makan bersama yang dikenal dengan sebutan botram.

Begitu juga dengan kaum muda zaman now. Masyarakat sekarang juga kerap berpesiar di seputaran hutan dan air terjun atau tempat wisata lainya untuk berbotram ria.

Sejatinya makan bersama ala Botram biasa dilakukan di luar rumah, bisa di kebun, di tepian sungai, atau sembari pesiar yang murah meriah.

Masyarakat sunda juga biasa melakukan botram sebelum bulan puasa.

Memang sederhana, tidak perlu makanan yang mewah, tidak perlu rupa-rupa perlengkapan makan, tidak ada urutan makan.

Acara makan Botram berbentuk lesehan, bebas, dan tidak mengenal etika pakai meja dan kursi.

Menu utama botram biasanya nasi liwet, lauk pauknya pun bervariasi, boleh ikan asin, tempe, ayam, oseng jengkol, petai goreng cabai dan lain-lain.

Yang pasti sambal dan lalapan adalah dua bagian penting yang harus ada di sana. Makan ala Botram mengajarkan untuk kebersamaan, saling berbagi dan kesederhanaan.

Dari mulai mengumpulkan bahan, memasak dan memakannya semua dilakukan bersama. Bahkan saat proses makanpun masih diselingi senda gurau dan adegan geser menggeser bagian nasi masing-masing, benar-benar menyenangkan. (Dindin Herdiana)***

Komentari