Negara Hadir Mengawal Produksi Kata-kata

TASIKMALAYA, (KAPOL).- Media menjadi referensi bagi masyarakat dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Untuk itu penggunaan bahasa yang digunakan media massa harus lah sesuai dengan ejaan yang disempurnakan. Agar masyarakat tidak tersesat dalam memakai bahasa Indonesia.

Atas kondisi itu, Balai Bahasa Jawa Barat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memandang perlu untuk melakukan kajian dan pembinaan terhadap media massa agar bahasa yang digunakan sesuai dengan ejaan yang disempurnakan.

Dan pada Kamis (12/4/2018) sore Balai Bahasa Jawa Barat yang diwakili Ketua Tim Pengawasan dan Pengendalian Penggunaan Bahasa di Media Massa Jawa Barat, Ardianto Bahtiar bersama anggota Mamad Ahmad, Lailatul Munawaroh, dan Devyanti Asmalasari.

Kedatangan rombongan dari Balai Bahasa Jawa Barat disambut Pemimpin Redaksi HU Kabar Priangan M Romli dan Pemimpin Redaksi Kabar Priangan Online, Duddy RS bersama jajaran redaksi lainnya.

Ketua Tim Pengawasan dan Pengendalian Penggunaan Bahasa di Media Massa di Jawa Barat, Ardianto Bahtiar mengatakan media massa menjadi salah satu referensi bagi masarakat dalam penggunaan bahasa, khususnya Bahasa Indonesia dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

“Kami memiliki tugas untuk mendampingi penggunaan bahasa yang digunakan media massa di Jawa Barat. Bagaimana media menggunakan bahasa Indonesia, bagaimana media memanfaatkan bahasa asing dan bahasa daerah untuk menguatkan bahasa Indonesia,” ujarnya.

Ia mengatakan selama sebulan ini pihaknya akan menelaah berita-berita yang ada di media massa termasuk berita di Kabar Priangan untuk selanjutnya, dilakukan pelatihan bahasa khusus untuk kalangan jurnalis yang ada di wilayah Priangan.

Itu penting dilakukan, mengingat banyak kata-kata yang biasa dilafalkan masyarakat namun belum baku dalam Bahasa Indonesia. Begitupun dengan penyelarasan penulisan bahasa asing yang diserap ke dalam Bahasa Indonesia masih banyak yang salah tulis karena masyarakat tidak mengetahui.

Bahasa Indonesia yang dibakukan sejak 72 tahun silam potensi pengembangannya sangat besar. Dalam perjalannya, berbagai lapisan masyarakat dilibatkan, tak terkecuali para ulama karena banyak serapan kata Bahasa Indonesia yang berasal dari Bahasa Arab.

“Contohnya kata rakyat, itu karya ulama zaman dulu. Itu dari kata ru’iyat, menjadi ra’yat dan diselaraskan dengan Bahasa Indonesia yang ditulis menjadi rakyat. Mushala, banyak yang nulis seperti itu. Padahal kata bakunya ditulis musala. Silahkan saja ditulis mushala, namun dimiringkan karena itu termasuk kata asing,” katanya.

Pemimpin Redaksi HU Kabar Priangan, M. Romli menyambut baik kunjungan tersebut. Menurutnya, media massa sangat perlu adanya saling berbagi dengan pihak yang berkompeten dalam bahasa yaitu dari Balai Bahasa. Bahkan, media massa pun perlu memiliki seorang ahli bahasa.

“Karena memang media massa setiap harinya tidak terlepas dari kata-kata dan itu memang harus benar,” katanya.

Pemimpin Redaksi Kabar Priangan Online (Kapol), Duddy RS mengatakan adanya balai bahasa Jawa Barat sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap media massa. Artinya negara hadir mengawal produksi kata-kata yang dilahirkan media massa.

“Media sejatinya harus mencermati diksi. Kami harus didampingi dan sekarang negara hadir mengawal produksi kata-kata dengan adanya Balai Bahasa Jawa Barat ini,” katanya.

Duddy juga menyambut baik langkah Kemendikbud yang menyediakan layanan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang dikemas dalam bentuk daring alias online.

Dari sana, masyarakat akan lebih mudah mengakses informasi mengenai kebenaran kata dengan EYD, cukup menggunakan gawai alias smartphone.

“Termasuk dalam mengenalkan bahasa yang terdengar asing di telinga masyarakat. Kami juga sering mengkaji kata-kata yang asing, seperti kata meneroka yang pernah kami kenalkan dalam bahasan Pilkada 2014. Awalnya masyarakat tidak kenal, namun diam-diam orang kenal, artinya meneroka itu mendalami,” katanya. (Aji MF)***

 

Komentari