Ngikis, Tradisi Memagari Diri Jelang Ramadan yang Tetap Lestari

CIAMIS,(KAPOL).- Jelang bulan suci Ramadan, di beberapa situs adat di tatar galuh Ciamis, kerap digelar ritual tradisi.

Demikan pula di kawasan situs cagar budaya Karangkamulyan, Cijeungjing, Ciamis yang saban menjelang bulan suci Ramadan selalu digelar tradisi ngikis.

Tradisi tahunan yang digelar di kawasan bekas kerajaan Galuh tersebut tidak hanya diikuti warga Karangkamulyan saja, tetapi juga diiikuti warga dari daerah lain.

Ngikis secara harfiah berarti memagar di mana pada masa lalu, ngikis lebih bersifat fisik yakni mengganti pagar bambu sekitar singgasana Prabu Galuh Ratus Pusaka Prabu Adi Mulia Sang Hyang Cipta Permana Adikisuma.

“Ngikis itu salah satunya bertujuan memagari diri dari perilaku dan hawa nafsu jahat, membersihkan diri, sehingga pada saat bulan puasa kembali bersih. Selain itu juga dapat menjadi ajang silaturahmi, bagi sanak saudara,” tutur Kepala Desa Cijeungjing Moh.Abdul Haris.

Dia mengungkapkan, selain warga Karangkamulyan dan sekitarnya, Ngikis kali ini juga dihadiri utusan termasuk juga beberapa wisatawan mancanegera yang menyaksikan. Tampak  hadir juga utusan dari luar negeri dan Calon Wakil Gubernur Jawa Barat nomor urut empat Dedi Mulyadi.

Moh.Abdul Haris menambahkan selain sebagai kawasan cagar budaya, peninggalan tersebut juga menjadi salah satu objek wisata minat khusus yang ada di wilayah tatar Galuh Ciamis.

Dengan demikian kegiatan Ngikis tidak hanya harus dilestarikan, tetapi juga dikembangkan sebagai aset wisata.

Puncak Ngikis ini dengan memasang pagar situs pangcalikan di Obyek Ciung Wanara Karangkamulyan. Pagar bambu lama diganti dengan bambu baru. Kemudian kain putih dililitkan ke bambu mengeliling situs.

“Pastinya tradisi ngikis merupakan tradisi masyarakat tatar galuh yang intinya mengingatkan kembali tentang sejarah perjalanan galuh yang menjadi cikal bakal berdirinya kerajaan pakuan pajajaran,” ungkap Moh.Abdul Haris.

Menurut Moh.Abdul Haris, secara prinsip ada dua aspek yang terkandung dalam Ngikis ini, pertama mengingatkan diri pada masa lalunya, dari mana manusia itu berasal dan keturuan siapa.

“Kedua tentang peduli alam, karena tradisi itu mengokohkan silaturahmi jiwa dan mengokohkan kecintaan kepada alam dan lingkungannya,” tegasnya.

Sementara itu Calon Wakil Gubernur Jawa Barat nomor urut empat, Dedi Mulyadi mengatakan,
prinsip tradisi ngikis, tradisi penyelamatan alam.

Di manapun seluruh situs selalu dikelilingi hutan dan menurut saya ini jalan untuk menyelamatkan lingkungan,” ungkapnya.

Dikatakan Dedi, untuk memimpin di Jawa Barat harus menyadari betul tentang membentuk karakter budaya. Secara umum orang tidak paham akan pentingnya membentuk karakter budaya. Terutama dalam pembangunan dan tata ruang, juga harus memahami kondisi lingkungan.

“Ciamis itu punya tradisi kuat. enggak ada relevansinya pagar di sini kenapa harus diganti besi. Birokrasi yang tidak paham lingkungan membuat pembangunan menjadi tidak tepat,” jelasnya.

Dedi juga mengingatkan, dalam membangun obyek Situs Budaya Ciung Wanara untuk tidak menggunakan bahan modern seperti besi dan genteng luar negeri. Karena di Ciamis ini kaya dengan injuk dan bambu.

“Kelemahan Pemerintah saat ini semua kegiatan tidak berbasis nilai tetapi berbasis proyek. Ini kelemahan yang perlu dibenahi. Pembangunan harus sesuai nilai dan kondisi,” pungkasnya.(Yogi T Nugraha)***

Komentari