Ngobrol Pendidikan Lewat Seni Ala YSTC

TAWANG, (KAPOL).- Berdasarkan dari data BPS Kota Tasikmalaya, sebanyak 7.710 anak di Kota Tasikmalaya hanya tamat sampai sekolah dasar (SD). Sebanyak 399 tidak tamat sekolah dasar dan 103 anak tidak mendapatkan pendidikan dasar.

Akses pendidikan untuk semua, kerap terhambat karena persoalan biaya, ketersediaan sekolah sampai diskriminasi yang terjadi di sekolah.

Sementara data Yayasan Sayangi Tunas Cilik Mitra Save The Children menunjukan bahwa 220 anak dengan disabilitas di Kota Tasikmalaya dan 245 anak dengan disabilitas di Kabupaten Tasikmalaya mengalami hambatan dalam pemenuhan hak pendidikan.

Mereka mengalami keterbatasan dalam hal biaya pendidikan, akses SLB yang jauh dari tempat tinggal, adanya penolakan dari sekolah terdekat, penyelengaraan sekolah inklusif yang belum maksimal dan tidak adanya pendidikan layanan khusus untuk anak disabilitas berat.

“Kasus yang terjadi kepada anak dengan disabilitas hanya satu dari sekian banyak kasus anak yang seharusnya mendapatkan pendidikan yang berkualitas,” ungkap Central Area Senior Manager Yayasan Sayangi Tunas CIlik mitra Save the Children (YSTC), Noer Pangroso, saat gelaran Ngobrol Pendidikan Lewat Seni, di Pendopo Lama Tasikmalaya, Sabtu (12/5/2018) malam.

Melalui program Inclusive Community Development and School for All (IDEAL), YSTC berupaya memberikan akses yang lebih luas untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas bagi semua anak.

Sejak tahun 2015, program IDEAL telah berkontribusi meningkatkan askes bagi anak dengan disabilitas untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, sebanyak 728 anak yang sebelum tidak pergi ke sekolah, kini sudah kembali ke sekolah. Akan tetapi, untuk mewujudkan pendidikan itu semua diperlukan dukungan dari semua pihak.

Guna mendorong semangat dan peduli pendidikan untuk semua, YSTC bersama sejumlah komunitas gelar diskusi dalam memperingati “Hari Pendidikan Nasional”  yakni Ngopi di Sini (Ngobrol Pendidikan Lewat Seni).

Hal itu merupakan salah satu kegiatan dari rangkaian kampanye sebagai upaya mendorong peran aktif semua kalangan termasuk kalangan pegiat seni dalam mendukung pendidikan yang berkualitas bagi semua anak.

“Harapannya semua komunitas di Tasikmalaya bisa bergerak bersama untuk lebih peduli, beraksi sekecil apapun untuk mengedukasi anak-anak dengan apa yang kita miliki. Berhenti  saling menunggu , jemput mereka dengan jiwa yang besar, karena anak adalah titipan tuhan,” ungkap salah satu perwakilan komunitas Tembok Tasik, Anggil Sukma

Rangkaian kegiatan seni, dari pelukisan mural, live doodle art, live sketching, pameran seni rupa, penampilan beatbox dan pembacaan puisi pendidikan adalah kepedulian bersama dan semangat dalam menumbuhkan pendidikan untuk semua.

Komunitas Tasikmalaya berharap kegiatan kampanye melalui seni ini dapat menjadi salah satu cara berbagi semangat kepada semua elemen masyarakat agar semua  pihak mendukung pendidikan untuk semua anak.

“Karena komitmen pendidikan untuk semua dimulai dari komitmen dari semua lapisan masyarakat,” ungkap salah satu pemateri sekaligus tenaga pengajar, Nur Aisyah. (Erwin RW).

Komentari