Pemkot Tasik Belajar Atasi Harga Telur ke Blitar

BLITAR, (KAPOL).-Melonjaknya harga telur di Kota Tasikmalaya yang hingga tembus Rp 30.000 mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kota Tasikmalaya dan Bank Indonesia Perwakilan Tasikmalaya.

Untuk mengatasi adanya lonjakan harga telur tersebut, Pemkot Tasikmalaya bersama dengan Bank Indonesia dan TPID Kota Tasikmalaya melakukan kunjungan kerja ke Koperasi Putera Blitar, sebagai koperasi yang sukses mengelola perdagangan telur ayam ras.

Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kota Tasikmalaya, Drs H Tantan Rustandi, SE mengatakan untuk mengatasi gejolak harga telur di Kota Tasiknalaya pentingnya pemerintah melakukan edukasi ke masyarakat mengenai harga telur dan jenis jenis telur.
Karena ternyata ada telur mirip kualitas 1 tetapi ternyata kw (kualitas rendah).

Selain itu kata Tantan, pemerintah juga harus melakukan pemantauan harga telur yang ditetapkan pedagang apakah wajar atau tidak.

Karena ketika harga telur di Blitar turun, harga di pasar Tasikmalaya tetap.

Jangan sampai terjadi masyarakat memanfaatkan ketidaktahuan tataniaga telur dan memanfaatkan ketidakfahaman masyarakat mengenai jenis telur.

Ketua Koperasi Putera Blitar Sukarman mengatakan anggota koperasi 4421 peternak yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Blitar.

Dari jumlah tersebut bisa menghasilkan telur 800 ton per hari.Pemasaran telur ke Jakarta, Bandung dan sebagian untuk memenuhi wilayah Surabaya dan sekitarnya.

Menanggapi terjadinya melonjaknya kata Karman itu akibat dampak dari kenaikan harga pakan ayam.

Hanya kenaikkan tidak terlalu besar paling 3.5 persen saja atau sekitar Rp 300 per kilogramnya.
Makanya, dia mengaku heran jika harga telur di pasaran bisa tembus Rp 30.000. Soalnya di kalangan peternak paling mahal 23.000.

“Dulu ketika lebaran harga tellur sempat naik Rp 24.000. Tapi peternak belum sempat menikmati harga sudah turun lagi,” katanya.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Tasikmamalaya Heru Saptaji mengatakan untuk mengatasi terjadinya gejolak harga telur di Kota Tasikmalaya, pertama pemerintah harus melakukan edukasi kepada para pedagang. Kalau komoditas telur bisa menjadi pemicu inflasi.

Kalau pedagang sudah paham, harga pas, wajar, ciptakan iklim kompetisi yang baik. Dengan begitu mekanisme pasar juga akan baik.

Dikatakan Heru, bahwa.tim TPID telah secara langsung akar permasalaha bagaimana mekanisme penjualan telur.Sekarang tinggal bagaimana Pemkot Tasik untuk bergerak. Sebab bagaimanapun, dukungan dan respon pemerintah untuk mengatasi gejolak harga telur bisa teratasi.

“Kami berharap, setelah pulang dari studi banding di Blitar ini, pemerintah bisa segera bertindak sehingga harga telur bisa normal kembali,” harap Heru.(M. Romli)***

Komentari