Pengrajin Gula Kelapa Cipatujah Butuh Pembinaan

CIPATUJAH, (KAPOL).-Dengan produksi nyaris mencapai 1 ton perhari, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya ternyata menjadi daerah penghasil gula kelapa tingkat nasional.

Bahkan hasil produksinya tidak hanya dipasarkan di pasaran lokal, namun juga ke pelosok negeri bahkan ke pasar internasional. Hal ini yang menjadikan Kecamatan Cipatujah dikatakan sebagai sentra gula kelapa.

Salah satu desa yang paling tinggi memproduksi gula kelapa yakni Desa Cipanas, Kecamatan Cipatujah. Di mana di desa tersebut hampir sebagian besar warganya bermatapencaharian sebagai penderes atau penyadap. Adapun hasil produksi gulanya bisa mencapai 1 ton per hari.

“Gula kelapa yang diproduksi kurang lebih 1 ton per hari. Dengan produksi sebanyak itu, maka dinyatakan sebagai sentra gula kelapa di Kecamatan Cipatujah bahkan di Kabupaten Tasikmalaya,” kata Kepala Desa Cipanas, Nanang kepada “KAPOL” Minggu (15/4/2018).

Menurutnya, gula yang diproduksi berupa gula cetak, namun oleh pengepul selain dijual berupa gula cetak juga ada yang diolah lagi, seperti menjadi gula kristal. Dengan produksi gula kelapa ini, dihasilkan oleh sekitar 400 kepala keluarga penderes nira kelapa. Setiap penderes rata-rata mampu memproduksi gula kelapa mulai 10 kilogram hingga 30 kilo gram.

Namun, meski mampu memproduksi gula kelapa dengan jumlah yang banyak, masyarakat belum mampu mengolah lagi hingga memiliki nilai jual lebih tinggi. Selama ini pengrajin masih memproduksi dengan berupa cetak, itupun belum seragam.

Butuh Inovasi

Dengan demikian, perlu adanya inovasi sehingga hasil memproduksi lebih berkualitas dan punya daya jual lebih tinggi. Sehingga kesejahteraan masyarakat lebih meningkat. Masyarakat jangan hanya cukup dengan penghasilan yang saat ini didapat, namun harus lebih tinggi lagi.

“Saat ini kesejahteraan masyarakat sudah baik, namun dengan berinovasi lebih baik lagi makan akan bisa lebih sejahtera, karena gula yang diproduksi semakin memiliki nilai jual tinggi,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Drs. Erry Purwanto mengatakan sangat disayangkan potensi tidak mampu dimanfaatkan lebih maksimal.

Untuk itu pihaknya berupaya memperjuangkan nasib masyarakat untuk berkoordinasi dengan dinas. Nantinya bisa dilakukan pembinaan terhadap pengrajin agar terus memperbaiki kualitasnya. Untuk pembinaan tersebut, pihaknya menganggarkan untuk pembinaan terhadap penderes dan pengrajin sebesar Rp 25 juta.

Karena potensi ini, selain mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat juga menyerap tenaga kerja. Meski pada umumnya, pekerjaan memproduksi gula kelapa masoh dikattakan sampingan. Namun pada kenyataannya, mereka memgandalkan kehidupannya pada produksi gula kelapa.

Karena ini menjadi basis ekonomi masyarakat perdesaan, maka perlu dikembangkan terlebih menyerap banyak tenaga kerja. Karena kualitas gula kelapa belum sama kualitasnya sesama pengrajin. Jangan sampai pengrajin gula kelapa menjadi bulan-bulanan pengepul, ungkapnya. (Ema Rohima)***

Komentari