Penyuka Sesama Jenis Berhimpun di Grup Media Sosial

TARKI, (KAPOL).-Kemunculan grup Facebook penyuka sesama jenis di Kabupaten Garut akhir-akhir ini tengah menjadi perbincangan hangat di Kabupaten Garut.

Bahkan kemunculan grup penyuka sesama jenis itu telah menimbulkan keresahan berbagai kalangan.

Bagaimana tidak meresahkan, keberadaan grup penyuka sesama jenis di Garut itu terkesan sudah sedemikian terbuka dan anggotanya sudah di atas seribu orang.

Yang lebih memprihatinkan lagi, grup ini anggotanya terdiri dari siswa SMP dan SMA.Reaksi terhadap kemunculan akun Facebook grup sesama jenis ini pun langsung bermunculan.

Semuanya seolah satu suara menyesalkan dan mengaku prihatin sekaligus meminta pihak berwenang segera turun tangan menangani masalah yang dianggap sangat serius ini.

Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Kabupaten Garut, Rahayu, mengaku sangat terkejut setelah mendapat kabar adanya grup penyuka sesama jenis di Garut.

Lebih dari terkejut, Rahayu pun mengaku sangat prihatin dan miris dengan fenomena yang menurutnya sudah sangat tak wajar ini.

“Tentu bukan hanya kaget tapi juga sangat prihatin sekaligus miris. Saya mendapatkan informasi adanya grup itu dari grup whatsapp MGMP sekitar dua hari yang lalu,” komentar Rahayu, Minggu (7/10/2018).

Dikatakannya, tak lama kemudian informasi tentang keberadaan grup penyuka sesama jenis yang anggotanya siswa SMP dan SMA itu juga bermunculan di grup whatsapp lainnya.

Baca Juga: Tahun 2015 Jumlah LSL di Garut Capai 3.300 Orang

Semua menanggapi hak itu dengan ungkapan penyesala dan keprihatinan yang mendalam dan banyak pula yang menyatakan ketidakpercayaannya dengan keberadaan grup tersebut.

Berangkat dari rasa penasaran dengan keberadaan grup tersebut, tuturnya, ia dan sejumlah guru lainnya mencoba membuka akunnya. Benar saja, grup tersebut memang ada bahkan bukan hanya satu tapi sedikitnya ada tiga grup.

“Hasil penelusuran yang kami lakukan, ada tiga grup penyuka sesama jenis yang beredar. Pertama yang dikhususkan untuk anak sekolah SMP dan SMA. Sedangkan dua grup lain untuk beberapa wilayah kecamatan,” ujarnya.

Menilai keberadaan grup tersebut sangat tak pantas dan membahayakan, Rahayu menyebutkan MGMP akan segera melaporkan hal itu ke Polres Garut. Tindakan hukum harus diberikan kepada pembuat grup dan para pelaku.

Menurutnya, biasanya mereka yang jadi penyuka sesama jenis ini karena faktor lingkungan. Ditambah kurangnya kasih sayang dari keluarga.

Ungkapan senada dilontarkan pemerhati pendidikan di Garut. Ketua Garut Education Watch (GEW), Sony Mulyadi Supriadi menilai fenomena ini harus mendapat perhatian yang sangat serius dari semua kalangan.

“Ini merupakan tanggung jawab bersama dan semua harus turun tangan untuk mengatasinya,” kata Sony.

Menurutnya, meskipun dalam grup disebutkan anggotanya terdiri dari anak-anak SMP dan SMA, tapi bukan berarti hanya menjadi tanggung jawab pihak sekolah dan dinas pendidikan.

Semua elemen yang ada, termasuk para ulama/tokoh agama, aparat penegak hukum dan juga masyarakat harus turun langsung mengingat efek yang ditimbulkannya sangat besar.

Menurut Sony, peranan guru BP di sekolah juga dituntut harus lebih aktif. Mereka harus turun langsung melakukan pendataan juga pembinaan karena tak menutup kemungkinan siswa di sekolahnya ada di dalam grup penyuka sesama jenis itu.

“Yang jelas sangat prihatin dan sama sekali tidak menduga sudah separah ini. Jumlah anggotanya pun dari informasi yang kami dapatkan sudah mencapai 1200 orang,” ucapnya.

Sony juga meminta aparat penegak hukum dalam hal ini kepilisian segera bertindak dan mengambil langkah-langkah penanganan. Ia pun melihat kasus ini masuk dalam pelanggaran UU IT yang harus diusut tuntas.

Kapolres Garut, Ajun Komisaris Besar Budi Satria Wiguna, mengaku sudah menerima informasi adanya grup penyuka sesama jenis di Garut melalui akun facebook.

Pihaknya pun sangat respon terhadap hal itu sehingga akan langsung melakuka penyelidikan terkait keberadaan grup tersebut.

“Informasi sudah kami terima. Kami pasti akan selidiki grup ini,” kata Budi.(Aep Hendy S)***

Komentari