IKLAN
EKBIS

Perkuat Pengembangan Payung Tasik, Pemkot Gandeng Polban

image

Penyerahan mesin pembuat celah bola-bola payung geulis dari Direktur Polban Dr. Rachmat Imbang MT kepada Walikota Tasikmalaya Budi Budiman, didampingi Ketua Dekranasda Kota Tasikmalaya Eti Atiah, Kepala Disperindagkop UMKM Kota Tasikmalaya Tantan Rustandi, para pengrajin payung geulis, serta mahasiswa pembuat mesin Linardi Imam Badrudin dan Moch. Topik Nugraha.

TASIKMALAYA, (KAPOL)-.
Pasar payung geulis masih sangat potensial untuk dikembangkan, demikian ditegaskan Kepala Dinas Perindagkop dan UMKM Kota Tasikmalaya Tantan Rustandi.

“Permintaan payung geulis ini sebetulnya tidak lesu, masalahnya hanya di produksinya. Justru jika boleh dibilang kini pasarnya sedang tebuka lebar. Dengan beragam kepentingan acara adat, kegiatan karnaval, dan juga tren back to nature yang mulai menguat, sangat mendorong usaha para pengrajin,” jelas Tantan, di sela kegiatan MoU Pemkot Tasik dengan Polban, Rabu (16/09/2015).

Tak dipungkiri, pihaknya pun menangkap keluhan dari pengrajin, salah satunya terkait kendala di pembuatan bola-bola dengan melakukan kerjasama dengan Politeknik Bandung (POLBAN). Demi menyelamatkan nasib payung geulis hari ini.

“Ya, masa bikin mobil, handphone, mesin yang canggih itu semua bisa. Makanya, saya tantang untuk bantu buatkan mesin bola-bola tempat rusuk payung. Ini bukan hanya untuk Tasik, tapi Jawa Barat. Karena payung geulis satu-satunya kan berasal dari sini,” tuturnya. Harus diakui, lanjut Tantan, menyusutnya pengrajin lantaran proses produksi yang sulit menjadikan pengrajin payung Tasikmalaya tak sepenuhnya dapat memenuhi permintaan. Untuk itu, perlu adanya alat-alat bantuan yang memudahkan pengerjaan payung.

“Dengan ada MoU ini, pertama industri payung geulis diharapkan mampu menggarap permintaan yang biasanya tak terpenuhi. Kedua lebih penting, bisa munculnya pengrajin baru yang bergerak di industri ini,” tegasnya.

Dia menambahkan, jika pihaknya ingin terus melakukan perbaikan teknologi pada komponen-komponen payung geulis secara bertahap, melalui kerjasama dengan POLBAN ini. Mulai dari pembuatan tangkai payung, jari-jari, hingga atap, demi meingkatkan kualitas produksi yang berstandar.

“Payung ini hanya interpointnya saja, jadi tidak menutup kemungkinan produk kreatif kita lainnya. Bahkan teman-teman dari kelom ini sudah meminta untuk disentuh teknologi dalam pengolahan kayunya,” tambah dia. Sedangkan, Ketua Kelompok Payung Geulis Yayat Sudrajat mewakili para pengrajin mengatakan optimistis industri payung bisa kembali bangkit baik dari pengrajin ataupun permintaan.

“Sekarang semua order bisa kita layani semua, kalau dulu kan bola-bola ini harus belinya jauh ke Salopa. Belum lagi, alatnya mudah digunakan siapapun tanpa belajar jadi semua bisa,” tambahnya.

Selain juga dengan adanya alat, proses produksi dari bahan baku hingga finishing Payung Geulis, kata Yayat kini sepenuhnya dilakukan di Panyingkiran, Indhiang. Payung geulis masih rutin dipesan oleh konsumen akhir ataupun para resller baik di daerah Jawa maupun luar daerah, seperti Sumatera dan Sulawesi. Harga yang dijual muali dari 30 ribu hingga 900 ribu rupiah. Yayat mengharapkan kedepannya, bisa juga diciptakan alat pembuat untuk penyangga rusuk payung.

“Buat rusuk itu juga sulit dan lama, kalau ada alat-alat gini lagi pasti industri payung bisa lebih maju,” harapnya (Astri Puspitasari)***

Komentari

IKLAN

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN
Direktur : H. Usman Rachmatika Kosasih
Pemimpin Redaksi : Duddy RS
Redaktur Pelaksana : Abdul Latif
Teknologi Informatika : Deni Rosdiana
Promosi dan Iklan : Nova Soraya
Kesekretariatan : Dede Nurhidayat, Sopi
Wartawan : Imam Mudofar, Azis Abdullah, Ibnu Bukhari, Astri Puspitasari, M. Jerry

Alamat Redaksi : Jl. RE. Martadinata No. 215 A Kota Tasikmalaya 46151

To Top