oleh

Pesantren Mama Maniis Terbakar

TASIKMALAYA, (KAPOL).- Bangunan. Pondok pesantren Maniis, di Kampung Maniis, Desa Bengkok, Kecamatan Salopa Kabupaten Tasikmalaya terbakar pada Jumat (20/9/2019) siang.

Pondok pesantren yang dibangun dengan bahan bahan kayu dan atap ijuk itu terbakar sebelum warga melaksanakan solat Jumat.

Warga belum bisa memadamkan api karena melaksanakan shalat Jumat terlebih dahulu.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Hanya saja beberapa bangunan pesantren yang dibangun oleh Mama Maniis itu habis dilalap api.

Miftahul Irfan al-Bukhari diakun medsosnya menerangkan jika pesantren Mama Maniis Terbakar sebelum warga melaksanakan salat Jumat.

Warga kata dia belum bisa memadamkan api karena harus melakukan salat Jumat terlebih dahulu.

“”Inna lillahi wa inna ilaihi roojiun” telah terjadi kebakaran di pondok pesantren (mama mani’is) di kampung mani’is desa bengkok kec.salopa kab.tasikmalay,” tulisnya.

Belum tahu pasti apa penyebab kebakaran tersebut karena memang warga harus melaksanakan salat Jumat terlebih dahulu, karena kebakaran itu hampir berbarengan dengan pelaksanaan shalat Jumat.

“Acan trang pasti kronologis namah. . Da rariweh ngabarujeng jum’atan,” katanya.

Pesantren Maniis dikenal dengan pesantren yang tetap mempertahankan bangunan asli pesantren sejak didirikan yakni menggunakan bahan bahan kayu dengan atap ijuk.

Tidak ada bangunan permanen apalagi beton di lokasi pesantren.

Pesantren Maniis didirikan pada tahun 1950 oleh almarhum KH Udin Samsudin atau yang lebih dikenal dengan Mama Maniis.

Pada masa pemberontak DI/TII pesantren tersebut sempat berhenti karena bangunan pesantren dibakar gerombolan DI/TII.

Dan pada Tahun 1963 pesantren Maniis tersebut dirintis kembali dengan menambah beberapa bangunan pondok.

Bangunan yang berdiri hingga saat ini itu terdiri dari masjid, madrasah, lima rumah serta empat pondok.

Semuanya dibangun dengan arsitektur tradisional, berdinding campuran tembok dan bilik serta beratapkan ijuk.

Sejak pertama kali berdiri, pesantren yang sudah dikenal hingga Madura itu selalu memiliki jumlah santri sebanyak 50 orang saja.

Dan ajaran yang disampaikan kepada santri lebih menekankan ajaran ilmu tasawuf.

Untuk kegiatan belajar, tidak hanya madrasah dan masjid saja yang bisa digunakan, tapi juga sejumlah beranda yang ditata sedemikian rupa sehingga sangat nyaman untuk belajar maupun tadarusan.

Tata letak setiap bangunan tampak artistik bertingkat-tingkat, karena berada di sebuah lereng bukit. (KP-03)***

Komentar

News Feed