Petani Tambak Udang Vaname Butuh Akses Permodalan

CIKALONG, (KAPOL).-Petani tambak udang Vaname di Desa Sindangjaya, Kecamatan Cikalong, Kabupaten Tasikmalaya mengaku kesulitan untuk mengakses permodalan guna mengembangkan tambaknya.

Untuk modal satu kolam, setidaknya dibutuhkan modal Rp 150 jutaan. Karena kekurangan modal, mengakibatkan petani berhubungan dengan pihak peminjam, meski bunganya besar.

Salah satu petani tambak udang vaname, Ajat kepada “KAPOL” Selasa (12/2/2019) mengatakan potensi budidaya udang vaname di Kecamatan Cikalong cukup tinggi. Alhasil saat ini terdapat sekitar 150 tambak yang ada di Kecamatan Cikalong. Namun, sebagian besar tambak itu dimiliki oleh para pemilik modal dari luar kecamatan, karena petani lokal tidak memiliki modal.

Sekalinya, melakukan budidaya petani terpaksa meminjam kepada pemilik modal dengan resiko bunga tinggi. Mereka (petani) terpaksa meminjam kepada pemilik modal, karena tidak perlu memiliki anggunan untuk meminjam. Adapun pembayarannya, dilakukan saat waktu panen dengan sebutan “bayar panen” atau yarnen.

“Kami dan petani lainnya terpaksa meminjam dengan bunga tinggi kepada pihak lain, karena kesulitan mengakses pinjaman ke lembaga keuangan. Di mana untuk meminjam ke lembaga keuangan harus memiliki anggunan,” ucapnya.

Menururnya, jalan yang ditempuh para petani udang vaname dengan meminjam kepada non lembaga keuangan karena keterpaksaan, agar budidaya udangnya bisa berjalan. Selain itu, pinjaman tersebut sangat mudah karena tidak perlu memiliki anggunan. Berbeda dengan ke lembaga keuangan perbankan, yang harus memiliki anggunan untuk mendapatkan pinjaman.

Untuk permodalan saat ini, setidaknya dibutuhkan Rp 150 juta per kolam untuk satu siklus atau sekitar Rp 900 juta per hektarnya atau sebanyak 6 kolam. Tentunya, dengan modal yang cukup besar itu mengakibatkan petani kesulitan untuk mengembangkan budidaya vaname. Karena selama ini untuk mengakses pinjaman modal ke perbankan dibutuhkan anggunan, padahal tidak semua petani memiliki anggunan.

Akibatnya, petani mencari modal lain hingga akhirnya berhubungan dengan pemilik modal perorangan dengan bunga yang cukup besar dan dibayar dalam setiap kali panen.

“Kami sangat berharap pemerintah dan perbankan bisa memberikan kemudahan dalam memberikan pinjaman. Artinya, tidak perlu menggunakan amggunan rumah atau sertifikat, namun cukup dengan kolam dan udang yang dibudidayakan,” tuturnya.

Dikatakan Ajat, dengan memberlakukan anggunan aset kolam dan udang, nantinya petani, pemerintah dan perbankan bisa sama-sama mengawasi. Sehingga tidak ada alasan terjadi kredit macet. Kalaupun terjadi kemacetan, maka aset kolam tambak dan udang yang dilelang oleh pihak pemerintah dan perbankan.

“Karena jika tidak begitu atau tidak ada dukungan dari pemerintah, petani masih terus kesulitan mengakses permodalan untuk mengembangkan tambaknya,” tegasnya

Dijelaskan Ajat, bahwa budi daya udang vaname yang telah kembangkan itu sangat menjanjikan. Tapi sayangnya belum banyak warga yang mengikuti karena kendala permodalan yang cukup besar. Dengan demikian, diharapkan pemerintah bisa memfasilitasi bantuan permodalan bagi petani tambak udang vaname.

Alasannya, dari segi pasar sangat menjanjikan keuntungannya. “Bahkan, potensi ini dapat meningkatkan kesejahteraan kaum petani tambak yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah,” ungkapnya. (Ema Rohima)***