oleh

Pohon Beringin Direkomendasikan Jadi Peneduh Jalan

KAPOL.ID – Pohon peneduh tumbang bukan kali ini saja terjadi. Memasuki musim hujan, pohon-pohon peneduh di pinggir jalan musti diwaspadai. Peristiwa di kompleks Dadaha, menjadi peringatan. Pohon tumbang merenggut nyawa orang.

Di sepanjang jalan Nasional pun pohon peneduh bisa menjadi ancaman. Beberapa tahun lalu tangkal asem di Jl. Letjen Ibrahim Adji, Indihiang pohon besar pernah tumbang melintang jalan.

Pohon asem berusia puluhan — bahkan ada yang menyebut ratusan — tahun tumbang. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa yang terjadi Senin dini hari (16/12/2013). Jika tumbang siang hari, saat lalulintas ramai, bisa saja menelan korban.

Pohon di depan kompleks SD Indihiang itu bagi warga setempat menjadi legenda. Lintas generasi yang melewati jalan itu pasti akan terkenang. Di bawah pohon, ada tempat nongkrong. Ada warung kecil di sana.

Ternyata, menanam pohon peneduh tidak bisa sembarangan. Menurut Tukirin Partomihardjo, ahli tanaman dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, pohon trembesi termasuk tanaman yang cepat tumbuh, tetapi rapuh (mudah patah). Berbeda dengan pohon waru, meski cepat tumbuh, kulitnya kuat sehingga mampu menahan batang.

Menggunakan trembesi sebagai pohon peneduh di pinggir jalan atau jalur hijau, Tukirin berpendapat, merupakan langkah sembrono. “Cabang pohon itu rapuh sehingga mudah patah saat tertiup angin,” katanya seperti yang dilansir kompas.com.

Trembesi termasuk jenis pohon berukuran besar yang mampu berdiameter satu meter. Dibutuhkan jarak tanam sekitar 20 meter, artinya lebih dari dua kali jarak tanam pohon peneduh lain.

”Akar trembesi juga merusak badan jalan,” katanya. Disarankan, penanaman di jalur hijau menggunakan pohon berkarakter akar tunggang yang masuk ke dalam tanah sehingga tidak merusak jalan atau trotoar.

Selain itu, batang dan dahan pohon juga harus tidak mudah roboh atau patah serta berusia panjang. Contohnya, pohon asam (Tamarindus indica), pule (Alstonia scholaris), kenari (Canarium vulgare), kepel (Stelechocarpus burahol), dan tanjung (Mimusops elengi).

Pohon mahoni (Swietenia mahagoni) tak direkomendasikan karena bersifat menggugurkan daun pada musim kemarau dan buahnya berukuran besar. Hal ini bisa membahayakan pengguna jalan yang berlalu lintas padat. Selain itu, kotoran daun juga bisa menyumbat aliran air di selokan.

Jika sama-sama bertujuan sebagai peneduh, Tukirin menyarankan menanam pohon beringin. Pohon ini lebih ulet serta menjadi sumber pakan bagi burung dan fauna lain.

Komentar

News Feed