Polisi Kejar Pembuat Akun Grup Gay SMP dan SMA Garut

KARANGPAWITAN, (KAPOL).-Upaya penyelidikan tereus dilakukan jajaran Polres Garut dalam menyikapi maraknya pemberitaan keberadaan dan aktivitas Grup Gay SMP dan SMA Garut yang dalam beberapa hari ini viral di media sosial. Polisi pun terus mengejar pembuat akun yangcmenghebohkan itu untuk dapat mengungkap apa motivasi dari pembuatan akun tersebut.

“Kita terus lakukan penyelidikan untuk dapat menemukan si pembuat akun Grup Gay SMP dan SMA Garut ini. Kita kejar terus sampai nantinya berhasil kita tangkap agar masyarakat tidak lagi resah,” ujar kapolres Garut, Ajun Komisaris Besar Budi Satria Wiguna saat ditemui seusai menggelar rapat khsusus menyikapi maraknya pemberitaan keberadaan dan aktivitas grup gay
di Garut, Rabu (10/10/2018) di Mapolres Garut.

Diakui Budi, kemungkinan upaya pengungkapan kasus ini akan memerlukan waktu cukup panjang. Hal ini dikarenakan kasus ini sudah berkaitan dengan masalah IT dan tentunya polisi akan menjeratnya dengan undang-undang IT.

Dikatakan Budi, hasil rapat Muspida plus termasuk MUI dan para tokoh ulama di Garut yang baru saja dilaksanakan, pada intinya tidak menyangkal adanya kelompok gay tersebut. Namun demikian apa yang diberitakan di medsos terutama keterlibatan siswa SMP dan SMA masih perlu ditelaah lagi.

Menurut Budi, sampai detik ini dari hasil penelusuran, pihaknya belum menemukan grup itu benar-benar ada. Namun demikian Polres dan Pemda sudah membentuk tim khusus untuk menelusuri hal ini dan saat ini masih melakukan pendalaman.

Terkait nama akun Grup Gay SMP dan SMA garut yang digunakan, Budi menilai hal itu belum bisa dipastikan kebenarannya. Karena menurutnya bisa saja nama akun tersebut sengaja disamarkan atau tadinya namanya berbeda akan tetapi kemudian di-hack oknum tak bertanggung jawab dan kemudian diganti dengan nama lain.

“Segala kemungkinan bisa saja terjadi apalagi saat ini negara kita tengah menghadapi agenda besar dan penting yang bisa saja dimanfaatkan oknum tak bertanggung jawab. Makanya untuk proses pengungkapannya kemungkinan memerlukan waktu cukup panjang,” katanya.

Budi menyebutkan, keberadaan gay ini bukan hanya terdapat di Garut tapi juga hampir di seluruh daerah. Ia pun menilai, jumlah gay yang ada di Garut saat ini tidak sebanyak sebagaimana data yang dikeluarkan pihak Komisi Penanggulangan Aids (KPA) dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Garut.

Jumlah gay di Garut menurutnya tidak sampai 2 ribu tapi masih dibawah 1.500. Kapolres juga menyesalkan kejadian bencana gempa dan tsunami di palu dan Donggala beberapa waktu lalu yang dikait-kaitkan dengan keberadan aktivitas gay di Garut saat ini. Banyak kalangan merasa resah bencana serupa bisa terjadi di Garut karena maraknya aktivitas gay.

“Adanya terjangan angin besar yang melanda sebagian kecil wilayah Garut Kota kemarin saja ko sampai dikait-kaitkan dengan masalah gay. Isu dengan cepat beredar bahwa di Garut telah terjadi angin puting beliung yang menyebabkan kerusakan cukup parah padahal itu sama sekali tidak benar,” kata Budi.

Setelah menerima informasi adanya terjangan angin puting beliung, diungkapkan Budi, dirinya langsung turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan.

Ternyata hasilnya, tidak ada terjangan angin puting beliung tapi yang ada hanya angin biasa tapi memang cukup besar. Selain itu, juga tak ada kerusakan parah yang diakibatkan angin tersebut melainkan hanya ada enam rumah yang gentingnya jatuh.

Budi juga meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh dengan isu-isu yang bisa menyesatkan. Rapat yang digelar inipun termasuk bertujuan untuk membangun koordinasi dengan semua steakholder agar sama-sama menenangkan masyarakat. (Aep Hendy S)***

Komentari