Polres Garut Berhasil Bongkar Sindikat Perdagangan Orang

Korban Dijadikan PSK di Bali

GARUT, (KAPOL).- Lagi-lagi jajaran Kepolisian Resor (Polres) Garut berhasil mengungkap kasus trafficking (perdagangan orang).

Kali ini kasus yang terbongkar para pelakunya sudah merupakan sindikat dengan jaringan yang sangat luas.

Pada awalnya, para korban dijanjikan akan dipekerjakan menjadi asisten rumah tangga (ART) di daerah Bali dengan iming-iming gaji yang besar.

Namun setibanya di Bali, para korban malah dipaksa untuk menjadi pekerja seks komersial (PSK) untuk memuaskan nafsu para lelaki hidung belang.
Kapolres Garut.

Ajun Komisaris Besar Budi Satria Wiguna, menerangkan belum lam ini pihaknya berhasil membongkar jaringan sindikat dalam kasus perdagangan orang.

Ada tujuh orang anggota sindikat yang berhasil diamankan yakni IR (48), FP (23), AS (26), RI (23), AR (26), A (41), dan CS.

“Tujuh tersangka yang berhasil kita amankan terdiri dari beberapa peran, seperti bos, perekrut, dan kurir. Mereka kita tangkap di Desa Pasawahan, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut dan Kecamatan Denpasar, Kota Denpasar, Provinsi Bali,” kata Budi saat menggelar ekspos di Mapolres Garut, Minggu (18/3/2018).

Sebelumnya, tutur Budi, pihaknya telah memeriksa sejumlah korban yang merupakan warga Garut dan Bandung dalam kasus perdagangan orang ini di antaranya MLS (18), NL (17), dan DWY (17).

Berdasarkan pengakuan para korban, mereka dijanjikan oleh salah seorang dari tersangka untuk dipekerjakan sebagai pelayan di daerah Bandung.

“Tersangak yang berperan sebagai perekrut membujuk para korban agar mau dipekerjakan sebagai pelayan atau juga ART di kawasan Bandung. Namun setelah para korban mau, mereka malah dibawa ke daerah Denpasar Bali dan di sana mereka dipaksa untuk menjadi PSK,” ujarnya.

Masih menurut keterangan para korban, tambah Kapolres, mereka dipaksa untuk melayani tamunya dengan bayaran hanya Rp 200 ribu untuk satu kali melayani tamu hidung belang.

Namun uang sebesar itu pun masih harus dipotong sehingga para korban pada akhirnya hanya mendapatkan Rp 80 ribu.

“Dari Rp 200 ribu uang pembayaran dari setiap tamu hidung belang, para korban hanya mendapatkan Rp 80 ribu. Sedangkan yang Rp 60 ribu diambil oleh tersangka TR sebagai pemilik tempat, Rp 25 ribu untuk karyawan, dan Rp 15 ribu untuk biaya lai-lain,” tutur Budi yang saat itu didampingi Kasatreskrim Ajun Komisaris Aulia Djabar.

Diungkapkan Budi, aksi sindikat perdagangan orang ini sudah berjalan selama empat tahun. Kelompok ini merupakan sindikat speasialis menjadikan perempuan sebagai PSK.

Pengungkapan kasus ini sendiri berawal dari adanya laporan dari salah satu orang tua korban yang khawatir karena ankanya sudah lama tak pulang.

Selain tujuh tersangka anggota sindikat, petugas juga berhasil mengmankan sejumlah barang bukti dari kasus kejahatan perdagangan orang ini.

Adapun barang bukti yang berhasil diamankan antara lain berupa catatan pemasukan villa, buku pemasukan PSK, catatan milik PSK, handuk warna putih, sprei, alat kontrasepsi, sabun batang, uang Rp 300 ribu, dua telepon genggam, dan pass bandara.

Atas perbuatannya tersebut, para tersangka dijerat Pasal 2 UU RI no 21 tahun 2001 tentang Tindak Pidana Pemberantasan Perdagangan Orang dengan hukuman kurungan pidana penjara paling cepat tiga tahun dan paling lama 15 tahun. (Aep Hendy S)***