Ponpes Daarul Falaah Wisuda Santri Amtsilati

TASIKMALAYA, (KAPOL).- Pondok Pesantren (Ponpes) Daarul Falaah, Kabupaten Tasikmalaya mewisuda para santri yang mengikuti program mempelajari “kitab kuning” dengan metode “Amtsilati” di area ponpes, Desa Sukasirna, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Kamis (14/3/2019). Melalui metode tersebut, santri bisa membaca kitab kuning hanya dalam waktu 8 bulan.

Wisuda Amtsilati angkatan III ini diikuti sebanyak 48 orang santri/santriyah Ponpes Daarul Falaah. Acara tersebut turut diisi dengan pengajian dalam rangka Isra Miraj dan haul ke-18 KH. Kholil Umar dan milad ke-12 Yayasan Daarul Falaah, yang diikuti para orangtua santri, masyarakat sekitar, dan mustamik dari berbagai daerah.

Pimpinan Ponpes Daarul Falaah, H. Dede Solahuddin, S.Pd.I kepada “KP” di pengujung kegiatan mengatakan bahwa Wisuda Amtsilati angkatan III diikuti santri yang telah mengikuti metode Amtsilati, yakni teknik dan tata cara cepat membaca kitab kuning dalam waktu 8 bulan.

“Kalau dulu (bisa selesai dalam waktu) 6 bulan. Namun sekarang kita buat menjadi 8 bulan, karena itu disatukan dengan tesnya. Ya alhamdulillah hasilnya,” katanya.

Lebih lanjut H. Dede menjelaskan, apabila dibandingkan dengan metode lama membaca kitab kuning, metode Amtsilati unggul dari segi waktu yang lebih cepat, karena mempraktikkan langsung.

“Kalau metode lama, seperti dari awal (mempelajari kitab) Tasripan, Jurumiyah, Sharof, Yakulu, Imriti, Alfiyah. Itu memerlukan waktu 4 tahun. Kalau dengan menggunakan metode baru 8 bulan. Bahkan, 3 bulan juga bisa, tergantung anaknya. Kalau di kita 8 bulan kita kasih waktu. Kita bulak-balik, kita kasih kitab kuning kosong supaya bisa,” jelasnya.

Pihaknya berharap dengan adanya program Amtsilati, semakin banyak siswa yang tertarik untuk belajar mempelajari dan membaca kitab kuning, karena waktu mempelajarinya lebih singkat. “Yang diwisuda sekarang itu ada yang masih (bersekolah) kelas VI SD dari Pesantren Nurul Huda Batu Masigit. Yang ikut pun bukan dari Tasik saja, bahkan yang paling jauh ada yang dari Jawa Timur dan dari Banten,” katanya.

Menurutnya, metode Amtsilati di Kabupaten Tasikmalaya baru pertama kali diterapkan di Ponpes Daarul Falaah”. “Sebenarnya banyak, namun yang pertama kali berjalan kegiatan Amtsilati ini di Daarul Falaah,” ujarnya.

Ke depan, metode Amtsilati akan ditambah kiyasan, karena terdapat perberbedaan antara kiyasan metode lama dengan kiyasan metode baru.

Salahseorang dewan pembina Yayasan Daarul Falaah, H. A Deni Adnan B, SH.i., SH., MH., mengaku bersyukur karena program unggulan Amtsilati kini telah memasuki wisuda ke-3. Menurutnya, program Amtsilati menjadi terobosan dalam teknik membaca kitab kuning secara lebih cepat.

“Sebagai dewan pembina berbahagia, bersyukur sekali program Amtsilati telah berjalan sampai wisuda ke-3, karena ini merupakan metode terobosan bagi anak didik yang tidak memiliki kelebihan waktu untuk mengenal baca kitab kuning. Ini terobosan, kalau metode klasik harus bertahun-tahun, tapi kalau dengan metode Amtsilati bisa sampai 4 bulan memahami dasar baca kitab kuning,” ujarnya. (Aji MF)***