oleh

Ruang Perjumpaan Festival 28 Bahasa Nusantara

PANGANDARAN, (KAPOL).- SMK Bakti Karya dan Kampung Nusantara Parigi Kabupaten berbaur dengan warga menggelar karnaval budaya sambil memboyong Sang Merah Putih.

Barisan pelajar lengkap dengan pakaian adat menggambarkan detik-detik pembacaan teks Sumpah Pemuda 90 tahun silam. Siswa dari berbagai suku itu berhenti dan berkumpul di lapangan, lalu salah seorang pelajar membacakan teks Sumpah Pemuda diikuti ratusan pelajar dan warga yang hadir.

Ajang festival 28 bahasa juga dihadiri Ketua Tim Naskah Akademik Jabar Masagi, Ifa H. Misbach, MA, pakar komunikasi Dr. Mediana Handayani, bersama kolega serta perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat yang digelar di kompleks SMK Bakti Karya Parigi, sekolah multikultural di Kab Pangandaran.

Menurut inisiator Kelas Multikultural, Ai Nurhidayat, Festival 28 Bahasa digelar untuk mengenalkan kepada masyarakat khususnya generasi muda tentang nilai-nilai Sumpah Pemuda.

“Kita mengulang kembali detik-detik pembacaan dan mengucapkan Sumpah Pemuda yang diikuti oleh ratusan pelajar dari berbagai daerah dengan pakaian adatnya masing-masing,” ujar Ai.

Tidak hanya pembacaan teks Sumpah Pemuda, kata Ai, para pelajar juga menggelar unjuk kemahiran berbahasa daerah. Ada 24 suku yang harus tampil dalam ajang itu. Di antaranya dari suku Jawa, Sunda, Aceh, Sumatera, Kalimantan, Papua, dan lainnya.

“Pelajar juga bercerita tentang kisah cerita adat dan pengenalan bahasa di daerahnya masing-masing,” kata Ai, seraya menambahkan, tujuan dari kegiatan Festival 28 Bahasa menjaga semangat kebangsaan dengan akan dilantiknya Presiden dan Wakil Presiden untuk menyiapkan Indonesia baru melalui momentum mengenalkan budaya masing-masing.

“Karena yang hadir bukan hanya masyarakat di Kab Pangandaran saja, ada para orang tua dan keluarga pelajar dari berbagai daerah, sekaligus kami bisa mempromosikan pariwisata dan budaya di Kab Pangandaran kepada mereka,” ujar Ai.

Sementara Ketua Tim Naskah Akademik Jabar Masagi, Ifa H. Misbach, MA mengatakan, sebenarnya ini harapan dari Jawa Barat atas riset tingginya intoleransi, karena Jawa Barat adalah provinsi terpadatnya penduduk di Indonesia.

“Jadi di antara isu intoleransi tinggi sekolah ini menjadi harapan dan mutiara yang membumikan nilai-nilai kemanusiaan, kita bisa sama-sama melihat manusia itu terlepas agama, suku dan latar belakangnya apa,” kata Ifa.

Sedangkan toleransi itu menurut Ifa tidak bisa diseminarkan, workshop atau kemah bareng yang hitungannya hari. Jadi kata dia, harus ada ruang kehidupan, maka sekolah multikultural ini mampu membumikan yang disebut ruang perjumpaan.

“Karena prasangka itu dimulai dari lingkungan yang homogen, seperti teman mainnya siapa. Misalnya para orang tua membatasi anaknya bermain dengan beda agama contohnya,” ujar Ifa.

Maka dirinya sangat mendukung, karena Sekolah Multikultural di SMK Bakti Karya ini kata Ifa merupakan mitra Jabar Masagi. Karena Jabar Masagi itu lanjut Ifa, merangkul semua perbedaan bukan menyamakan dan bukan menyeragamkan.

“Kita semua ingin membuat praktek-praktek itu muncul lalu kita endorse,” ujarnya.

Pasalnya menurut Ifa, bangsa Indonesia sudah terlalu riuh dan gaduh dengan situasi politik dan identitas agama.

“Kita ingin bangsa Indonesia itu tidak pecah. Dan kita di Jawa Barat mulai dari inovasi membumingkan nilai-nilai kemanusiaan real seperti di sekolah multikultural di SMK Bakti Karya ini. Saya percaya membentuk sekolah ini tidak gampang, perlu waktu, keringat dan lainnya. Maksudnya ini gak gampang tapi kita masih bisa kerjakan,” ujarnya. (POL)

Komentar

News Feed