Sakralitas Kirab Panji Harus Dilestarikan

SUMEDANG, (KAPOL).- Para budayawan meminta pemerintah daerah untuk tetap menggelar prosesi budaya kirab panji setiap tahunnya.

Kegiatan kirab panji, dinilai merupakan kegiatan budaya yang sakralitasnya sangat tinggi. Dengan demikian, prosesi tersebut harus dilestarikan dan diprioritaskan sebagai kalender budaya di Sumedang.

Salah seorang aktivis budaya, Away Nur Kurnia menyebutkan, kirab panji merupakan representasi dari sejarah perjalanan kerajaan Sumedang Larang.

Secara historis, kata dia, kegiatan kirab panji adalah bentuk menghormati sejarah leluhur Sumedang.

Sehingga hal tersebut selayaknya mendapatkan perhatian tak hanya dari pemerintah daerah, melainkan dari semua masyarakat Sumedang

“Kirab panji itu didalamnya ada nilai-nilai yang menggambarkan sejarah panjang berdirinya Sumedang.

Dimana, perjalanan sejarah itu dimulai dari Darmaraja sebagai pamiangan (keberangkatan). Untuk itu prosesi kirab panji harus tetap ada,” ujar Away, di Cipaku, Selasa (17/4).

Ia menggambarkan, prosesi kirab panji adalah amanah yang harus dilaksanakan oleh masyarakat budaya.

Sejarah mencatat, kirab panji adalah prosesi penyerahan panji-panji agung dari raja ke raja sebagai awal sejarah berdirinya Sumedang.

“Paling tidak kita bisa mengingat terus sejarah tersebut. Ya caranya dengan kirab panji tersebut,” katanya.

Away menyebutkan, sebelumnya para aktivis budaya dari wilayah Sumedang telah menggelar kirab panji.

Dalam kirab panji tersebut, prosesi dimulai dengan ziarah ke makam-makam keramat diantaranya, ke makam Eyang Prabu Lembu Agung di situs Astana Gede, makam Cisema, makam Paniis, makam Prabu Tadjimalele di Gunung Lingga dan makam Eyang Prabu Gajah Agung di Cicanting Desa Cisurat.

“Nah ziarah tersebut adalah proses mengisi ruh. Prosesi tersebut dinamakan “Ngaruhan”,” ungkap Away, yang juga, orang terakhir pindah dari wilayah genangan Jatigede.

Pelaksanaan kirab panji kemarin kata dia, sudah dilaksanakan dengan tim utama lebih dari 100 orang membawa Panji Sumedang Larang, Panji Nonoman keraton Sumedang Larang (NKSL) Panji Tembong Agung dan Panji Himbar Buana.

Sementara itu, aktivis budaya lainnya, Hadi Barkah Nalendra menyebutkan, prosesi kirab panji akan tetap dilaksanakan meski dalam kondisi apapun.

Dirinya ingin membuktikan bahwa para budayawan mampu melaksanakan kegiatan kirab panji sebagai amanah budaya leluhur.

“Harus ada penekanan bahwa agenda kirab panji ini akan menjadi agenda tahunan masyarakat adat Sumedang Larang meski tidak ada bantuan dari Pemerintah,” ujarnya.  (Nanang Sutisna)***

Komentari