Sebelum Dimusnahkan, Ikan Aligator Jadi Primadona di Festival Ternak

CIAMIS,(KAPOL),-Keberadaan ikan aligator hasil sitaan yang dipamerkan di Festival ternak dan ikan di Lapang Saguling, Ciamis, Jawa Barat, menjadi daya tarik dan primadona tersendiri. Para pelajar sekolah dasar (SD) yang penasaran dengan ikan berbahaya ini langsung berkerumum di depan stand.

Ikan aligator itu sengaja di pamerkan di Ciamis sebelum dimusnahkan oleh Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu (SKIPM). Tujuannya, untuk mengedukasi masyarakat bahwa ikan asal sungai amazon itu dilarang dipelihara.

Khususnya bagi para pelajar, supaya mengetahui bentuk ikan aligator, habitatnya dan faktor lainnya. Sehingga kedepan mereka tidak akan memilhara ikan tersebut.

Umumnya, pengunjung festival penasaran dengan bentuk ikan aligator yang cukup menyeramkan. Mulutnya moncong seperti spatula mirip buaya bahkan ketika mulutnya dibuka terlihat gigi tajam.

Banyak warga yang sengaja memotret ikan aligator tersebut menggunakan kamera ponsel. Lantaran, ikan tersebut jarang dijumpai karena bukan ikan asli Indonesia.

“Penasaran sama ikan aligator jadi datang kesini sama sekolah, katanya ikan ini berbahaya, ukurannya juga sangat besar,” ujar Sandi siswa kelas 2 SD Negeri 1 Saguling saat ditemui di depan stan ikan berbahaya Rabu (8/8/2018).

Siswa lainnya, Firman, mengatakan sebelumnya pernah melihat ikan aligator. Menurutnya, meski sepintas terlihat seperti ikan biasa namun setelah dilihat dari dekat, aligator memiliki gigi yang tajam dan menyeramkan.

“Takut tapi penasaran, kalau di rumah adanya ikan emas di akuarium milik ayah,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Ciamis, Otong Bustomi mengatakan ikan aligator pinjaman dari SKIPM Cirebon sebelum dimusnahkan, menjadi daya tarik bagi festival ternak dan Ikan Ciamis.

“Memang masyarakat dan khususnya pelajar sangat antusias melihat ikan aligator ini,” kata Otong di sela kegiatannya.

Selain dipamerkan, petugas juga akan mensosialisasikan bahaya ikan aligator apabila dipelihara atau diperjualbelikan. Terutama bila lepas ke perairan Indonesia, karena dapat mengamcam ekosistem.

“Bahaya bila lepas ke perairan, bukan hanya terhadap ikan-ikan asli Indoesia juga dikhawatirkan menyerang manusia. Setelah dipamerkan akan kami serahkan kembali lalu dimusnahkan,” pungkasnya.(Yogi T Nugraha)***

Komentari